Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Mutiara Tak Pernah Kehilangan Nilai

Marhaen Wijayanto-Dok Pribadi-

“Kamu lihat, teman sekolahmu itu? Tak libur kan?” Ustaz Herman tersenyum sembari membuatkan kopi untuk kami. 

 

Menjelang libur sekolah yang hampir selesai saya melihat dengan mata kepala sendiri, beberapa anak mengangkut barang-barang milik para pengunjung dan pembeli pasar. Salah satunya adalah si Topik, si juara kelas di sekolah kami yang anak orang tidak mampu. Saya tahu teman sekelas saya itu berprestasi di sekolah, tapi orang tuanya jadi kuli panggul di pasar. Di sekolah ia kadang sembari membawa dagangan untuk dititip ke kantin. Uang sakunya berasal dari usahanya sendiri. Baju lusuh dan badan kotor tak lagi dihirau, asal bisa membantu orang tua mencari makan.

 

“Entah apa yang terjadi di wilayah tempat tinggalnya, anak berprestasi semacam dia lolos dari data Kartu Indonesia Pintar? ” ujar kakek yang sedari muda memang tak pernah puas dengan kebijakan menuntaskan masalah sosial. 

 

“Sementara di Jepang dan Tiongkok sudah  memikirkan teknologi tak masa depan, kita masih berada di masalah yang itu-itu saja! Negara ini malah rutin memberi mutiara pada babi. Bantuan yang diberikan belum tentu kepada yang berhak menerima. Kalau orang-orang di negeri ini jujur, mungkin anak-anak itu akan menikmati liburan dengan orang tuanya, bukan malah bekerja membantu angkut-angkut barang.”

 

Si Topik juara kelas di sekolah saya masih kolor-kilir membantu mengangkut barang-barang. Adiknya yang masih kelas satu SD membawa dagangan pempek. Kakek yang kasihan dengan kakak adik cerdas itu membeli beberapa bungkus. Lalu menikmatinya bersama kopi dan teh di kedai pasar. 

 

Ternyata air yang menggenang di lubang-lubang lantai pasar itu semakin banyak. Saya melihat watak pantang menyerah si Topik juara kelas melawan keadaan itu. Sehingga celana yang dimiliki si Topik dari hari ke hari semakin kumal.  

 

“Kadang kita meski melihat ke bawah, tidak selalu mendongak ke atas. Masih ada orang kurang beruntung padahal berpotensi. Kecilnya bayaran pendidik membuat anak-anak cerdas memilih pekerjaan lain. Masih bagus kalau itu pekerjaan layak, bukan angkut barang atau berjualan di sembarang tempat.”

 

Saya tahu si Topik teman saya itu memakai celana lusuh dan robek di bagian pantatnya. Lalu di mana baju-baju terbaik di keluarganya? Apakah keluarganya tidak bisa membelikan celana yang bagus. Saya tahu ketika pasar malam dia memakai celana itu. Ketika bermain bola pun masih memakai celana itu.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan