Puisi-puisi Nadira Putri Saqillah
Nadira-Dok Pribadi-
mengapa suara kami dicinta hanya saat kotak suara tersedia?
Mengapa janji-janji dibangun seperti istana di awan—
indah dipandang, mustahil dijamah?
Apakah kami benih yang diminta tumbuh, tapi tak pernah diberi tanah yang layak?
Kami tak marah,
hanya lelah yang mulai menetap
di antara sisa teh dan bunyi piring kosong,
masuk ke dalam doa yang tak pernah rampung,
sebab ini hanyalah doa dari anak kampung.
Malam ini,
saat listrik bersinar seadanya,
ibu menyendok nasi ke piring kami
dengan tangan yang bergetar seperti lilin terakhir,