Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Penduduk Pulau Bangka (Bagian Dua)

Akhmad Elvian-screnshot-

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC.

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah kebudayaan Indonesia

 

SETELAH data komposisi penduduk Pulau Bangka masa Pemerintahan Inggris Tahun1812-1816), tidak dijumpai data lengkap tentang kondisi penduduk pulau Bangka. 

---------------

BARU Menjelang akhir Tahun 1850, atau tepatnya pada 1848, atau setelah 38 Tahun kemudian, Pemerintah kolonial Belanda mulai melakukan penghitungan kembali mengenai penduduk yang ada di Pulau Bangka. Sama seperti Pemerintah Inggris, pemerintah Hindia Belanda juga secara umum membagi penduduk Bangka atas orang Bangka, Orang Melayu, Orang Cina, dan Orang Eropa.  Jumlah orang Eropa di Bangka pada 1848 tercatat kurang lebih 60 orang, mereka hampir semuanya adalah pegawai Belanda dan keluarganya. Sementara tentara atau garnisun yang bertugas di berbagai tempat di pulau ini yang jumlah personilnya berada di luar jumlah 60 orang Eropa tersebut.  Di garnisun, terdapat beberapa ratus orang militer Eropa. Algemeen Verslag der Residentie Banka over Het Jaar 1850, ANRI Residensi Bangka Nomor 41 disebutkan bahwa wanita, anak-anak termasuk asisten rumah tangga orang Eropa secara keseluruhan berjumlah hampir 1.000 orang. 

Tentang bagaimana Penduduk pulau Bangka dijelaskan melalui statistik penduduk Bangka pada 1848. Berdasarkan sumber: P. Bleeker. “Bijdragen tot de kennis van de statistiek der Bevolking van de eilanden Banka en Biliton” dalam Indisch Archief Tijdschrift, No. III, tahun 1850, hlm.393. adalah sebagai berikut: Pada distrik Mentok jumlah Orang Bangka 2.814, Orang Melayu 4.526, Orang Cina 754 Orang, total keseluruhan penduduk distrik Mentok 6.124 Orang yang tinggal di 44 kampung. Selanjutnya pada Distrik Jebus, jumlah orang Bangka 1182 orang, Orang Melayu 686 orang, orang Cina 1514 orang dengan keseluruhan jumlah penduduk 3382 orang yang menempati sekitar 25 kampung. Pada distrik Blinyu jumlah orang Bangka 1923 orang, orang Melayu 189 orang dan orang Cina sebesar 2270 orang dengan jumlah keseluruhan penduduk 4384 orang. Penduduk tersebut hampir menempati 25 Kampung. Kemudian pada Distrik Sungailiat dan Merawang jumlah orang Bangka 6.991 orang, Orang Melayu 373 orang, dan orang Cina sebesar 1.190 orang dengan jumlah keseluruhan penduduk pada Distrik Merawang dan Sungailiat sebesar 8556 orang yang menempati 138 kampung. Pada Distrik Pangkalpinang jumlah orang Bangka sebesar 4.576 orang, sementara orang Melayu 251orang dan orang Cina sejumlah 1.867 orang dengan jumlah keseluruhan penduduk distrik Pangkalpinang yaitu 6.694 Orang mendiami hampir di 103 kampung. Distrik Sungaiselan dengan jumlah penduduk orang Bangka sebesar 3.289 orang, Orang Melayu 99 orang, orang Cina sebesar 837 dan total keseluruhan penduduk sebesar 4.225 yang mendiami 51 kampung. Pada Distrik Koba jumlah orang Bangka sebesar 1.971 orang, orang Melayu 52 Orang dan jumlah orang Cina 309 orang dan total keseluruhan penduduk sebesar 2.332 yang mendiami 42 kampung. Terakhir pada distrik Toboali, jumlah orang bangka sebesar 3.513 orang, orang Melayu 725 orang dan orang Cina 1.311.Jumlah keseluruhan penduduk Toboali 5.549 orang. Sementara itu Penduduk pulau Lepar berjumlah hampir 1000 jiwa. Jumlah penduduk Bangka dianggap sebagai  jumlah angka yang tepat karena masih terdapat data dari penduduk pulau Bangka yang tidak tinggal menenetap serta berpindah dari satu tambang ke tambang Timah lainnya, terutama data tentang Orang Cina.

Bangka pada saat itu dibagi dalam 8 distrik yaitu Muntok, Jebus, Blinyu, Sungailiat dan Marawang, Pangkal Pinang, Sungeislan, Koba dan Toboali. Dari distrik-distrik ini, Muntok sebagai kota utama yang mendominasi ujung barat daya pulau. Di utara Muntok berbatasan dengan distrik Jebus, yang dipisahkan dari Blinyu oleh teluk Klabat. Muntok, Jebus dan Blinyu juga mencakup bagian barat pulau. Distrik Sungei Liat dan Marawang terletak di selatan Blinyu, sementara distrik Pangkal Pinang berada di selatan Sungei Liat dan Marawang, dan Sungeislan berada di bagian selatan lagi, atau berada di sebelah barat Pangkal Pinang. Sungei Liat dan Marawang, Pangkalpinang dan Sungeislan mencakup bagian tengah dari pulau. Koba dan Toboali  mendominasi bagian selatan (sekaligus timur) pulau. Kota yang terletak di sebelah paling Selatan adalah Toboali. Toboali terletak di jalan masuk Selat Bangka. Di sebelah timurnya terletak pulau Lepar (kira-kira 10 paal panjang dan lebarnya). Distrik-distrik ini masih dibagi lagi  dalam afdeeling atau daerah batin. Para kepala daerah batin ini di banyak tempat menyandang gelar demang dan mandor. Oleh karena itu, dalam daftar di berbagai distrik dipilih  istilah afdeeling. 

Tinjauan umum tentang penduduk di berbagai distrik, kondisi penduduk Bangka pada akhir 1848 adalah sebagai berikut: Menurut  P. Melvill van Carnbee bahwa luas pulau Bangka adalah 223 mil persegi. Pada akhir 1848, rata-rata jumlah penduduk per mil persegi sebanyak 185 jiwa. Hal ini jauh berada di bawah bila dibandingkan dengan jumlah penduduk di Jawa, yang densitasnya mencapai 3954 per mil persegi. Bila dibandingkan dengan Pulau Jawa, penduduk di Jwa 21 kali lebih banyak bila dibandingkan dengan penduduk di Bangka. 

Bila dibandingkan dari data masa Inggris atau 36 tahun kemudian, maka jumlah penduduk dalam 36 tahun secara umum naik lebih dari tiga kali lipat. Akan  tetapi dalam perbandingan ini, orang-orang Bangka kemudian naik lima kali lipat, orang-orang Melayu kurang dari dua kali lipat dan jumlah orang Cina lebih dari dua kali lipat. Para pejabat tinggi Eropa di Bangka yang juga menulis tentang penduduk Bangka seperti Epp menghitung jumlah  penduduk Bangka sekitar 30.000 jiwa (tanpa orang Eropa). Sementara van de Velde menuliskan dan menetapkan 35.731 jiwa dan Melvill van Carnbee bahkan menulis sebanyak 36.000 jiwa. Perhitungan pada 1845 menyebutkan jumlah 38.099 jiwa dan jumlah tahun 1846 menyebutkan di Bangka terdapat  61 orang Eropa, 26.298 orang Bangka, 1.855 orang Melayu, 12.226 orang Cina dan 19 orang budak; seluruhnya berjumlah  40.150 jiwa (tanpa penduduk di Pulau Lepar). 

Masing-masing distrik memiliki wilayah dan kekhususan tersendiri. Pada 1845 masing-masing distrik dapat dilaporkan sebagai berikut: Penduduk distrik Muntok. Distrik Muntok terdiri atas ibukota Muntok dan daerah Belo, Planas, Sukouw (Sukal), Jering, Ketapi, Ampang, dan beberapa kampung yang kecil-kecil. Muntok sebagai Ibukota seluruh keresidenan terbagi dalam 3 kampung. Di sana tinggal 9 orang pejabat Eropa dengan keluarga mereka dan beberapa orang perwira. Di Muntok  ditempatkan garnisun yang menjadi pusat garnisun di pulau Bangka. Di kota ini juga tinggal 50 orang Cina Katolik, yang kebanyakan datang dari Singapura dan dibaptis di sana. Di daerah Belo hanya terdapat satu kampung; Planas memiliki 3 kampung, daerah lainnya secara yang kecil-kecil 3 kampung, Jering memiliki 5 kampung, Sukouw (Sukal) memiliki 3 kampung, Ketapi memiliki 5 kampung dan Ampang memiliki 6 kampung, sehingga daerah ini sebagai   ibukota keresidenan  memiliki 21 kampung. Distrik Muntok menghasilkan timah. Hasil tahunan diperkirakan menghasilkan sebanyak 600 pikul. Tambang tertua Timah berada di Belo dan kemudian baru dibuka di Muntok. Jumlah orang Cina di Belo sekitar 1722 orang. Mereka merupakan orang Cina pertama yang melakukan kerja tambang dengan tekhnogi baru yang disebut tekhnologi kulit. Di sana masih ditemukan sisa-sisa rumah sangat besar, yang  berukuran 200 kaki panjangnya dan 110 kaki lebarnya. Rumah ini diyakini didirikan oleh orang orang Cina. 

Selanjutnya Penduduk Distrik Jebus. Distrik Jebus terdiri atas tiga daerah, yakni  Jebus, Klabat dan Sungeibulu. Ibukota Jebus terletak dekat pantai barat pulau ini. Di sini tinggal seorang administrator Eropa dan sebuah benteng kecil dengan sedikit tentara. Di ibukota (Jebus)  tinggal sekitar 167 orang Melayu dan 156 orang Cina. Dahulu daerah Antan  dekat sungai antan  yang bermuara di Teluk Kelabat merupakan sebuah tempat yang menjadi ibukota distrik. Akan tetapi serangan dari para perompak dan orang-orang Lanon terutama pada tahun 1789 dan 1790 telah membuat ibukota di wilayah Antan sungai Antai itu pindah ke Jebus. Daerah Jebus termasuk ibukota terdiri atas  15 kampung, masing-masing di  Klabat 6 kampung, Sungeibulu terdiri atas 4 kampung. Di distrik ini seluruhnya memiliki 25 kampung. Distrik ini mengelola  28 tambang, yang seluruh hasilnya mencapai 5.400 pikul per tahun.***

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan