Ade Perahu, Nek Berenang
Ahmadi Sopyan-screnshot-
aku heran aku heran keserakahan diagungkan…….
Salah satu bait dalam lagu tersebut yang ternyata masih sangat relevan hingga saat ini.
Lem Perekat Perahu Retak
INDONESIA adalah bangsa besar yang memiliki ribuan pulau, yakni kurang lebih 17.504 Pulau. Memiliki 1.331 suku dan 652 bahasa. Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara yang menjadi landasan dari segala keputusan bangsa dan mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia. Sedangkan Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan yang diambil dari bahasa Jawa Kuno dengan makna “berbeda-beda (beraneka ragam) tapi tetap bersatu”.
Setelah sekian lama merasakan pahit dan getirnya dijajah oleh bangsa asing, kita bangsa Indonesia dapat memekikkan “merdeka” dan hidup dapat menata serta mengelola negara sendiri. Wajah demokrasi Indonesia jika diibaratkan air laut mengalami pasang surut, dari era Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi hingga demokrasi hari ini. Pasang surut demokrasi kita seharusnya dapat membuat kian dewasa, terutama para pengelola negara. Kalau rakyat mah, karena sudah terbiasa ditempa susah dan hidup dalam pasang surut air laut, sudah sangat dewasa. Justru yang patut dipertanyakan kedewasaan dan kebijksanaannya adalah para pengelola dan pengambil kebijakan yang nun jauh di Istana dan sekitarnya.
Hari ini, Indonesia kita saksikan cukup miris. Berbagai persoalan dari masalah keuangan negara, hutang, keamanan, hukum, sosial, politik, lapangan pekerjaan, penyebaran berita hoax, dan deretan permasalahan lainnya pun seperti tak pernah terselesaikan dengan baik dan bijak. Bahkan jika diibaratkan penyakit, sepertinya Indonesia mengalami komplikasi dan para dokter dan perawat ternyata seperti tidak memahami bagaimana mengobati penyakit tersebut. Bisul di pantat, namun mengoles obatnya di jempol kaki.
Perpecahan antar anak bangsa pun sepertinya masih belum pernah mampu diselesaikan. Ataukah sengaja tak diselesaikan dengan baik dan bijak? Akhirnya riak-riak perpecahan pun sudah mulai terbuka. Antar ormas berbenturan ataukah dibenturkan. Antar ahli agama saling nyinyir, antar Parpol bahkan sesama Parpol saling tuduh dan tuding, antar aparat saling curiga dan akhirnya antar rakyat saling cakar-cakaran. Jika hal ini teruslah dibiarkan, maka perpecahan wilayah di Indonesia tinggallah menunggu waktu. Tentunya itu hal yang sangat TIDAK kita inginkan.
Jika diibaratkan Perahu, maka persislah bahwa Indonesia saat ini seperti judul lagu “Perahu Retak”. Keretakan yang terjadi diberbagai tempat dan wilayah janganlah sampai menganga dan akhirnya membuat perahu menjadi karam dan seluruh penumpang menjadi korban. Kita bangsa Indonesia, sebagaimana yang diungkapkan oleh Founding Fathers kita, Bung Karno adalah bangsa yang up and down, timbul tenggelam, pasang surut. Namun daripada itu, kemampuan dalam mengarungi bahtera tidak bisa dikesampingkan. Oleh karenanya dibutuhkan orang-orang yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang sedang kita hadapi bersama.
Persoalan yang paling mendasar di Indonesia saat ini adalah penegakan hukum, ekonomi dan kedewasaan dalam demokrasi (politik). Akhirnya Indonesia berubah wajah menjadi negara saling curiga antar sesama anak negeri. Semua orang rasa-rasanya dalam pantauan, bahkan penulis kecil dan kampungan seperti saya ini pun tak lepas dari pantauan dan ditunggu kapan terpeleset sehingga gampang diseret.
Namun, seberapa pun persoalan dan carut marut bangsa ini, sebetulnya kita bangsa Indonesia memiliki segalanya untuk memperbaiki. Tapi, sayangnya para pemegang kekuasaan seringkali tidak jeli melihat karena terlalu besar kepentingan politik kekuasaan, bukan politik negarawan. Ibaratnya, kita menemui masalah kumis dan batang nangka. Ternyata kita tidak bisa menentukan kapan pakai Silet kapan waktunya pakai Kapak. Menghadapi kumis menggunakan Kapak, tapi menghadapi batang Nangka mengggunakan Silet. Akhirnya kumis tak tercukur, bibir jontor. Batang Nangka tetap utuh, Silet patah.
Ibarat “Perahu Retak” tadi, yang paling parah akhirnya kita tidak merasa memiliki perahu. Sehingga nyatalah apa yang pernah diungkapkan istilah oleh para orangtua kita dulu di Pulau Bangka: “Ade Perahu, Nek Berenang”. Akhirnya kita pun tersambar buaya ditengah arus sungai dan muara.
Oleh karenanya, pada sebuah wawancara stasiun televisi swasta dan RRI, saya pernah menyatakan, yakni LEM PEREKAT untuk mengatasi retaknya Indonesia hari ini adalah BUDAYA. Budaya itu memiliki nilai filosofi kehidupan. Budaya itu halus dan bernilai cinta dan budaya itu bisa diterima oleh semua kalangan. Pun dalam sejarahnya, Indonesia ini adalah karena kekayaan budaya yang disatukan dalam BHINNEKA TUNGGAL IKA. Siapakah yang mempersatukan kita, baik di tingkat lokal maupun ditingkat nasional? adakah terpikirkan oleh para pengelola negeri ini bahwa BUDAYA bukanlah sekedar aset bangsa, tapi ia juga adalah LEM PEREKAT. Seberapa peduli pengelola negeri ini pada budaya? Pernahkah aparat dan kepala pemerintahan duduk bersama para budayawan lalu diskusi mengenai strategi menyatukan negeri melalui budaya? Ah sudahlah… saya khawatir, lama-lama lem perekat itu pun akhirnya terjual juga.
Akibatnya, Indonesia hari ini sepertinya tak memiliki tokoh pemersatu, tak ada lagi Bapak Bangsa, Ibu Pertiwi yang menaungi, dan akhirnya rakyat bagaikan anak ayam kehilangan induk alias yatim piatu. Padahal kita adalah anak yatim yang diwarisi kekayaan luar biasa oleh orang tua. Namun kekayaan itu tak mampu kita kelola. Tanah warisan dikapling dijual kemana-mana, perhiasan yang ada dilepas gadaikan, toko bangkrut total. Pada akhirnya paling menyakitkan untuk makan, sekolah dan melamar kerja saja membuat kita ngutang dengan cara mengemis ke tetangga.
Namun, apapun kondisinya, Indonesia adalah satu keluarga. Semiskin apapun kondisi tak boleh membuat terpecah belah. Karena kekompakan dan semangat kebersamaan adalah modal utama membangun kembai sebuah keluarga besar yang lebih kuat dan hebat. Yakin dengan modal semangat yang tertanam dalam budaya.
Salam Budaya!(*)