Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Perangai

Ahmadi Sopyan-screnshot-

Begitu juga dengan negara. Ada negara sadar ada negara tak sadar. Ada negara yang tak sadar dan menyangka keadaan baik-baik saja sampai tak menyadari bahwa semua kelancaran itu bertumpu di atas hutang. Dengan hutang itu pula semua menyangka negara sedang bertumbuh dan makan gratis padahal dari APBN. Selain itu, kesalahpamahan pola pikir termasuk dalam memandang aparat hukum dan penegak hukum dalam kehidupan sosial masyarakat kita akan melahirkan gejolak berkepanjangan. Kita berharap tidak ada gejolak yang tak pernah usai, tapi selalu saja “dibuat” hingga membuat keadaan, kenyamanan, ketenteraman dan kedamaian kita sesama anak negeri semakin menipis. Harusnya…, aparat negara atau pejabat negara menjadi peredam bukan penyulut, pendamai bukan malah bikin semakin ramai. Inilah yang sering saya katakan, budaya dan nilai-nilai kearifan lokal harus digalakkan dan dikedepannya ditengah masyarakat kita agar kebhennikaan dan keharmonisan negeri kembali. Keadilan harus benar-benar ditegakan bukan karena politik apalagi balas dendam, bukan karena uang apalagi like and dislike pada seseorang.

Masyarakat Bangka tempo doeloe, menyebutkan ketidakberesan pada diri seseorang atau kelompok dengan kalimat “perangai lah takok” (perilaku/kebiasaan yang sulit dirubah). Perangai adalah perilaku atau kebiasaan seseorang atau kelompok dimata orang lain atau kehidupan sosial kemasyarakatan. Perangai memiliki keterkaitan yang erat dengan adab, adat dan akhlak. Oleh karenanya buruk perangai maka akan merembet pada keburukan-keburukan berikutnya. Makanya dalam pemikiran saya pribadi, apa yang dipertontonkan oleh para penguasa sejak awal berkuasa hingga saat ini adalah tontonan yang memilukan sekaligus memalukan. Akhirnya timbul pertanyaan, apakah ini memang sudah perangai ataukah karena keadaan saja? Jikalau ini adalah perangai, maka akan sulit negeri ini semakin membaik seperti yang kita harapkan. Karena “mucak perangai” tidak bisa sehari dua hari atau sebulan dua bulan, tapi ia membutuhkan waktu yang panjang dan orang yang tepat. Tapi kalau ini hanya karena keadaan, mari kita gandengkan tangan, satukan langkah, sinergi untuk menciptakan harmoni di negeri yang masihkah pantas disebut gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.

***

APAPUN dan bagaimana pun kondisi negeri saat ini, pastinya kita semua memiliki harapan dan do’a yang sama, yakni kembalikan Indonesia Raya yang gemah ripah loh jinawi, damai dan harmoni, penegakan hukum yang adil bukan main bedil, pejabat negara bukan penguras uang negara. Kecintaan pada orangtua, ulama, senior, gotong royong, ramah tamah, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, adab, adat dan akhlak menjadi tumpuan kita bahwa kita adalah Indonesia sesungguhnya. Masing-masing kita, entah itu Presiden, Wakil Presiden, Panglima TNI, Menteri, Kapolri, Kapolda, anggota TNI & Polri Gubernur, Bupati, Walikota, ASN, Hakim, Jaksa, Rakyat Jelata, semua merenung diri, berperang melawan “perangai” kita masing-masing yang jauh dari adab berbangsa dan bernegara, yang jauh dari sisi kemanusiaan, yang jauh dari keadilan, yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan yang hanya berpikir untung rugi dan pencitraan duniawi. 

Salam Perangai!(*)

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan