Baca Koran babelpos Online - Babelpos

BANGKAKOTA (Bagian Sepuluh)

Akhmad Elvian-screnshot-

“pada tanggal 14 November, Residen Smissaert, dalam perjalanan pulang ke Muntok, dan hanya ditemani oleh 5 atau 6 pengawal bersenjata, disergap dan dibunuh di Kampung Dauwet, sebuah kampung yang berjarak satu hari perjalanan dari sisi Pankalpinang, oleh sekelompok pemberontak berjumlah 150 hingga 200 orang. Pemimpin kelompok ini adalah seorang bernama Batin Barien, seorang kepala suku yang beberapa bulan sebelumnya bertanggung jawab atas pencurian 30 atau 60 balok timah yang ditemukan dalam tahanan rakyatnya, dan setelah ditahan untuk ganti rugi, ia menghilang dan bergabung dengan pemberontak Banka-kotta. Pada tanggal 18 November, berita pertama tentang peristiwa tragis ini diterima di Muntok. Komisaris Muntinghe segera mengambil alih administrasi sipil kediaman tersebut. Dalam laporan mengenai hal ini, ia menyatakan bahwa ia mengakui perdamaian di pulau Banka telah sangat terganggu, tetapi tetap optimistis bahwa ia akan memulihkannya setelah jangka waktu tertentu, terutama melalui negosiasi dan persuasi. Namun, hasilnya tidak sesuai dengan harapan baik ini. 

Dalam Laporan ini disebutkan bahwa pembunuhan Residen Smissaert terjadi di satu kampung bernama Dauwet, dan juga disebutkan bahwa Bahrin kemudian bergabung dengan pemberontak di Bangkakota. Pasukan Belanda yang berkedudukan di Mentok dan Pangkalpinang memperkirakan, bahwa pusat kekuatan Bahrin dan pasukannya yang dikatakan sebagai pasukan bajak laut (zeerovers) tersebut berkedudukan di Koeboebangka (Kotabangka) atau Bangkakota yang berada di tengah-tengah pesisir Barat pulau Bangka. Dalam peperangan Depati Bahrin beserta pasukannya, memang selalu berpindah-pindah tempat dengan taktik gerilya, dari Bangkakota, Kotawaringin, Jeruk dan Menareh/Mendara. Menurut laporan A. Meis, Depati Bahrin lebih senang tinggal di Mendara/Menareh dan tempat berkumpul bajak laut. (Arsip Nasional (ARNAS-RI) Arsip Daerah Palembang, no.67...hlm.125-169). 

Selanjutnya dalam laporan Pengamat Militer, Kisah Perang Palembang Tahun 1819-1821, Oleh A. Meis terkait keberadaan Kepala Residen Smissaert yang dipenggal dikabarkan pada halaman 140: 

“Onder dagteekeningvan den21sten November melddede inspecteur der tinmijnen te Pankalpinang dat Batin-Barien, uit naam van den Sultan van Palcmbang, Machmoed Badaroedin, geschriften onder de Chinesche mijnwerkers verspreidde, waarin zij aangespoord werden de oproervaan te omhelzen en hen be loofd werd dat de Sultan, ingeval zij de partij der muitelin gen kozen , hun tin tegen 10 Spaansche matten de pikol zoude koopen. Bij een later schrijven meldde dezelfde ambtenaar, dat de hoofden der oproerlingen zich te Tambang, 8 uren van Pankalpinang, ophielden, en dat Koessie, de medepligtige van -Barien in den moord van den Resident Smissaert, het afgeslagen hoofd van den vermoorden, de rivier van Pankal-mundo had uitgevoerd , om het den Sultan van Palembang ten geschenke te brengen, en denzelven tevens om onderstand in geld , kruid en levensmiddelen te vragen”. 

Maksudnya:

Kira kira adalah bahwa pada 21 November, inspektur tambang timah di Pankalpinang melaporkan bahwa Batin-Barien, atas nama Sultan Palembang, Mahmoed Badaroedin, membagikan surat-surat kepada para penambang Tionghoa, yang isinya mendesak mereka untuk bergabung dalam pemberontakan dan menjanjikan bahwa Sultan, jika mereka memilih pihak pemberontak, akan membeli timah mereka seharga 10 Ringgit Spanyol (Spaansche matten) per pikol. Dalam surat selanjutnya, pejabat yang sama melaporkan bahwa para pemimpin pemberontak tinggal di Tambang, delapan jam dari Pankalpinang, dan bahwa Koessie, kaki tangan Barien dalam pembunuhan Residen Smissaert, telah membawa kepala korban yang terpenggal menyusuri sungai Pankalmundo untuk dipersembahkan sebagai hadiah kepada Sultan Palembang, dan sekaligus meminta bantuan berupa uang, bubuk mesiu, dan perbekalan.(Bersambung/***)

    

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan