Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Kawa Nyusah Pasca Lebaran

Ahmadi Sopyan-screnshot-

Oleh: AHMADI SOFYAN

Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya

WALAUPUN perekonomian “Hidup segan, mati dak pati renyak”,  pasca lebaran, para pendatang tetap kembali dengan membawa keluarga dan para sahabatnya guna mencari nafkah di daerah kelahiran kita Bangka Belitung. Beberapa tahun kemudian mereka sukses, sedangkan kita masih tetap “konsisten” seperti dulu. Ada apa dengan kita?

----------------

 BEBERAPA tahun lalu, kala Minggu terakhir Ramadhan 1436 H, bersama Prof. Dr. Saparuddin, MT., P.hD. (sekarang Walikota Pangkalpinang), Dr. Reniati, SE., M.Si. (Dekan Fakultas Ekonomi UBB) dan saya (Ahmadi Sofyan) selaku “Budak Bangka” diminta oleh Ustadz Fadillah Sabri, ST., M.Eng. (sekarang Rektor UNMUH Babel) untuk menjadi salah satu pembicara dalam diskusi interaktif menjelang berbuka puasa dengan mengangkat tema: “Hubungan Budaya Bangka dengan Kreativitas Orang Bangka” di Fakultas Tehnik Universitas Negeri Bangka Belitung.

Dalam diskusi santai yang sangat inpsiratif dan komunikatif bersama para Dosen UBB, karyawan, mahasiswa dan tamu undangan lainnya ini cukup menarik. Karena ini adalah ide baru dalam menumbuhkan kegiatan diskusi interaktif di Bangka Belitung, apalagi menjelang berbuka puasa yang umumnya selalu di isi dengan ceramah agama. Dalam kesempatan tersebut, saya yang datang terlambat dan baru saja duduk di kursi pembicara, ditodong pertanyaan oleh moderator, Ustadz Fadillah Sabri, ST., M.Eng.: “Sebagai ‘Budak Bangka’, apakah Anda setuju bahwa orang Bangka Belitung itu ‘Dak Kawa Nyusah’?”. 

Menjawab pertanyaan Moderator, saya katakan bahwa tidak semuanya orang Bangka itu berpredikat “dak kawa nyusah”. Orang Bangka itu memiliki banyak etnis, salah satunya etnis Tionghoa. Saya melihat etnis Tionghoa tipikal pekerja keras karena dalam sejarahnya mereka dulu adalah kuli tambang timah dan sekarang sukses dalam berbagai macam bisnis. Jika mereka berpredikat “dak kawa nyusah”, saya yakin sampai hari ini mereka masih tetap jadi kuli tambang timah. Nyatanya? Mereka justru jadi Boss Timah dan merambah pada bisnis-bisnis besar lainnya. 

Bagaimana dengan etnis Melayu? Nah, disinilah kadangkala mengapa predikat “dak kawa nyusah” itu masih konsisten melekat dalam diri kita. Karena kita berada pada kaum mayoritas dan memiliki “keintiman sosial” yang tinggi dalam artian hidup selalu berdekatan dengan sanak famili, sehingga timbul rasa manja dan pilih-pilih dalam bekerja. Sedangkan Melayu Bangka Belitung yang berada di luar, justru mayoritas sukses dalam berbagai bidang karena selain dikenal cerdas, juga bertipikal “kawa nyusah”. Artinya langkah awal menuju keberhasilan itu adalah berani keluar dari zona nyaman yakni keintiman sosial. Jadi, “dak kawa nyusah” itu bukan hanya milik orang Bangka, tapi bisa milik semua orang di dunia ini. Bahkan di Arab sana konon kabarnya orang-orang Arab lebih “dak kawa nyusah” dibandingkan kita disini.

***

MASYARAKAT Bangka Belitung adalah masyarakat yang sangat terbuka kepada para pendatang dari etnis dan kaum mana pun. Tentunya sikap ini sangat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan keramahtamahan serta keterbukaan sebagai karakter masyarakat Melayu Indonesia. Namun daripada itu, keterbukaan yang kita miliki hendaknya mampu menjadi motivasi, baik pola kerja maupun pola pikir bagi kita sebagai pribumi. Karena kerapkali pertanyaan muncul ditengah-tengah obrolan warung kopi dari kawan-kawan pribumi (Bangka Belitung): “Mengapa para pendatang seperti orang Jawa, Padang, Madura, Batak dan lain sebagainya bisa sukses di tanah kelahiran kita?”.

Yakinlah, bahwa bukan karena dari daerah mana mereka berasal yang membuat sukses. Tapi keberhasilan yang mereka dapatkan karena dalam tanah rantau mereka siap bekerja keras bahkan bekerja kasar tanpa mementingkan imej atau ego. Mereka siap kembali ke titik nol, tidak menganggap diri siapa-siapa atau keturunan siapa. Sedangkan kita lebih banyak malu, sungkan, ego yang tinggi, akhirnya disebut dengan “dak kawa nyusah”. Selain itu, mental pribumi (orang yang bekerja di daerah kelahiran) umumnya memiliki mental ingin bekerja karena berharap dipandang mulia oleh kerabat dan tetangga yang pada kenyataannya penghasilan yang didapatkan tidak lebih besar dari para pekerja kasar. Bahasa singkatnya, ternyata apa yang kita lakukan (pekerjaan) lebih penting penampilan dan anggapan orang daripada kenyamanan hati dan pendapatan.

Selain itu, karena semangat yang tinggi serta minimnya jaringan serta sadar keadaan, masyarakat pendatang umumnya lebih banyak membuat pekerjaan ketimbang melamar pekerjaan. Nampak dalam prinsip para perantauan adalah “tidak memiliki pekerjaan tetap (bukan pegawai negeri atau kantoran), namun harus tetap bekerja”. Makanya setelah bertahun-tahun membuat mata pencaharian di tanah rantau, umumnya mereka tak tergiur untuk memiliki kendaraan mewah, nongkrong menghabiskan waktu di warung kopi, petantang-petenteng nraktir kawan seperti umumnya kita yang hobi nraktir kawan sekantoran agar dapat pujian. Ternyata mereka lebih memikirkan isi rekening dengan tetap tinggal di rumah kontrakan kecil, sedangkan di kampung halaman rumah mewah dan sawah berhektar-hektar sudah menunggu ketika nanti mereka kembali. Tak apa dianggap pekerja kasar, miskin dan tak berharga, namun kala waktunya tiba, mereka jauh melesat di atas kita.

Bagaimana dengan kita? Ketika berhadapan dengan kerja kasar, ada ungkapan dari kawan, keluarga bahkan dari diri sendiri yang umumnya terjadi: “Along gawi laen (mendingan kerja yang lain)” sebuah ungkapan karena ogah untuk melakukan pekerjaan yang dianggap kasar, tapi nyatanya “gawe laen dak digawe-gawe juga” (kerja yang lain juga tidak dilakukan). Karena kita selalu menganggap sebuah pekerjaan atau begawe (kerja) itu jika berpakaian rapi, ada kantornya, gaji tetap, baju seragam (dinas) dan sebagainya.

***

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan