Ketua BEM UGM: Reformasi Jilid II
Tiyo Ardianto-screnshot-
Tantangannya, kata dia, kita hidup di era individualisme yang sangat tinggi. Banyak mahasiswa terpaksa bekerja paruh waktu karena biaya kuliah mahal dan lapangan kerja semakin sempit. Kondisi ini membuat ruang gerak aktivisme menyempit.
Sebagian kebijakan pendidikan bahkan dinilai mengalihkan energi mahasiswa dari gerakan kritis ke aktivitas administratif.
“Karena itu, jangan memisahkan antara gagasan dan tindakan. Membayangkan reformasi bukan berarti mengawang-awang. Jika ingin perubahan melalui jalur formal, misalnya membentuk partai politik dan memenangkan pemilu, realitasnya sistem politik saat ini sangat mahal dan sarat modal besar. Hampir mustahil menang tanpa dukungan dana besar, yang sering kali berasal dari oligarki. Maka yang pertama harus diperkuat adalah kesadaran publik. Jika masyarakat cerdas dan kritis, politik uang tidak akan efektif,” tuturnya.
Dalam konteks pemilihan kepala daerah, misalnya, biaya politik yang sangat besar hampir pasti menciptakan ketergantungan pada pemodal.
Di sinilah muncul istilah “korup” dalam arti yang lebih luas, bukan sekadar tindak pidana korupsi yang terbukti di pengadilan, tetapi praktik balas budi melalui pemberian izin atau kebijakan yang menguntungkan pendukung politik.***