Berbahagia Menyambut Ramadan
Ilustrasi-screnshot-
MENYAMBUT bulan suci 1 Ramadan 1447 H menjadi momen istimewa yang selalu dinanti umat Islam di seluruh dunia.
-----------------
MENJELANG datangnya bulan suci Ramadan, sudah sepatutnya hati kita dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan. Dalam agama Islam, ada tiga alasan utama mengapa kita harus bahagia menyambut bulan suci Ramadan sebagai bentuk keimanan dan ketakwaan.
1. Bahagia Menyambut Ramadan Dijanjikan Pahala dan Surga
Alasan pertama bahagia menyambut bulan suci Ramadan adalah karena terdapat keutamaan besar bagi orang yang bergembira atas kedatangannya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, Allah akan memberikan ganjaran kebaikan yang luar biasa.
Walaupun sebagian riwayat masih diperdebatkan derajatnya, semangat utama dari ajaran tersebut adalah menyambut Ramadan dengan hati yang penuh suka cita. Ucapan seperti “Marhaban Ya Ramadan” dan “Ahlan wa Sahlan Ya Ramadan” menjadi bentuk ekspresi kebahagiaan menyambut bulan suci Ramadan.
Kebahagiaan menyambut Ramadan menunjukkan kesiapan diri untuk meningkatkan ibadah puasa, shalat, dan amal saleh lainnya.
2. Bahagia Menyambut Ramadan Adalah Tanda Orang Beriman
Alasan kedua mengapa harus bahagia menyambut bulan suci Ramadan adalah karena hal itu menunjukkan identitas sebagai orang beriman. Perintah puasa Ramadan secara tegas ditujukan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Seruan “yaa ayyuhalladzina amanu” menegaskan bahwa kewajiban puasa Ramadan adalah panggilan khusus bagi kaum mukmin.
Orang yang beriman akan merasa senang ketika datang kesempatan untuk menambah pahala melalui ibadah puasa Ramadan. Rasa bahagia menyambut Ramadan menjadi bukti aktual bahwa hati kita masih hidup dengan iman dan takwa. Semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula kebahagiaannya dalam menyambut bulan suci Ramadan.
3. Bahagia Menyambut Ramadan Menjauhkan dari Sifat Munafik
Alasan ketiga bahagia menyambut bulan suci Ramadan adalah sebagai tanda bahwa hati kita terhindar dari sifat munafik. Orang yang hatinya lemah atau penuh kemunafikan cenderung merasa berat ketika Ramadan tiba. Mereka mungkin lebih memikirkan keterbatasan makan, minum, dan hiburan dibandingkan keberkahan puasa Ramadan.
Padahal bulan suci Ramadan adalah momentum pengendalian diri dari hawa nafsu dan kecenderungan hedonisme duniawi. Jika seseorang merasa enggan atau sedih berlebihan saat Ramadan datang, maka itu bisa menjadi tanda perlunya introspeksi diri.
Sebaliknya, rasa bahagia menyambut Ramadan menunjukkan hati yang bersih dan cinta pada ketaatan.