Perjalanan Cinta Eyang Meri dan Jenderal Hoegeng, Harmonis Dalam Banyaknya Rintangan
Jenderal Hoegeng dan Meri.-screnshot-
Harmonis meski Banyak Rintangan
Sebagai seorang pendamping hidup dari pejabat penegak hukum yang dikenal antisuap dan sangat bersih, Meriyati Hoegeng hidup dengan standar intergritas yang sama. Di balik nama besar Hoegeng, ada Eyang Meri yang selalu menjaga marwah keluarga dan terus menegakkan prinsip moral tanpa kompromo.
Seperti dikutip dari laman resmi Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, bertahun-tahun hidup bersama Hoegeng, Meriyati seringkali menjadi sasaran upaya gratifikasi terselubung. Mulai dari pemberian cincin berlian yang dikaitkan secara tak berdasar dengan dirinya sampai ada kirimin peti hadiah berisi barang elektronik mahal, semua itu ditolak mentah-mentah olehnya.
Eyang Meri selalu menghadap dengan posisi konsisten, di mana dirinya terus menjaga kebersihan nama keluarga dan juga tak akan memberikan celah terciptanya fitnah. Karena ketegasan sikapnya itu, langkah Jenderal Hoegeng menjadi kuat dalam menjaga integritas hukum di tengah lingkungan kerja yang penuh dengan godaan duniawi.
Pada suatu hari, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi, dan saat itu Meriyati baru saja merintis usaha toko bunga bernama "Leilani" di Cikini. Namun, ketika sang suami khawatir akan keberadaan usaha tersebut yang bisa saja dimanfaatkan untuk mendekati dirinya sebagai pejabat publik membuat Meri mengambil keputusan tegas. Di mana, ia langsung menutup usaha toko bunga itu tanpa ragu.
Hari-hari berikutnya, ia terus saja menghadapi banyak godaan berupa fasilitas mewah. Namun, Meri selalu berada di belakang keputusan Hoegeng untuk menolaknya.
Bahkan, di saat banyak pejabat ikut perjalanan dinas ke luar negeri dengan membawa istrinya masing-masing, Meriyati justru tidak ikut. Ia lebih menghargai keputusan suaminya yang hanya memakai biaya resmi tanpa ada tambahan fasilitas.
Pada masa pensiun, keduanya menjalani kehidupan sederhana dan penuh keharmonisan. Mereka bergantung pada kegiatan yang berproduktif, seperti melukis hingga tampil di grup musik Hawaiian Seniors.
Gaya kehidupan mereka pun kala itu sangat jauh dari kata glamor. Usai maut memisahkan keduanya, di mana Hoegeng wafat pada tahun 2004, ia tetap setia dan memegang setengah pensiun suaminya untuk menjalani hidupnya sehari-hari.
Ulang Tahun ke-100 Tahun
Tepat pada tahun lalu, wanita bernama asli Meriyati Roeslani Hoegeng ini merayakan ulang tahunnya yang genap berusia 100 tahun. Perayaan ini menjadi momen istimewa bagi diri Meri, di mana ia juga meluncurkan sebuah buku autobiografina.
Buku edisi khusus ini berisi perjalanan hidupnya yang ditulis oleh sang cucu, Krisnadi Ramajaya Hoegeng. Dalam kesempatan itu, Eyang Meri menyerahkan buku autobiografinya kepada para tamu dan juga pihak kepolisian yang hadir sebagai bentuk simbolis dari warisan nilai yang ia titipkan ke generasi penerus.***