FIFA Resmikan Kompetisi Tandingan AFF, MAFIA AFF Diberantas!
Presiden FIFA.-screnshot-
Di sinilah drama terjadi, bukan Kevin Diks yang maju sebagai eksekutor, melainkan pemain lain yakni Kevin Stoger yang ditunjuk oleh pelatih. Dan sialnya eksekusi penalti tersebut gagal. Momen ini sontak membuat para fans Borussia Mönchengladbach geram. Namun kemarahan mereka bukan ditujukan kepada Kevin Diks.
Sebaliknya mereka justru membela Kevin Diks di media sosial para fans ramai-ramai menyatakan bahwa seharusnya Kevin Diks lah yang mengambil penalti tersebut sebagai penghargaan atas perjuangannya yang luar biasa. Terlebih bek andalan Timnas Indonesia tersebut memiliki rasio penalti paling tinggi saat ini.
Pembelaan dari para suporter Mönchengladbach ini menjadi bukti nyata betapa penting dan vitalnya peran Kevin Diks di dalam tim.
Mafia AFF Diberantas
Ada yang sedang retak di tubuh sepak bola Asia Tenggara. Di tengah isu “mafia AFF” yang selama ini hanya berputar sebagai rumor, kini muncul langkah berani dari FIFA. Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya turun tangan langsung dan mengumumkan lahirnya turnamen baru — FIFA ASEAN Cup, sebuah kompetisi yang digadang-gadang bakal menjadi tandingan langsung Piala AFF.
Langkah ini bukan sekadar pergantian nama. Ini adalah sinyal politik sepak bola global — sebuah pesan dari Zurich untuk Bangkok: “Sudah cukup permainan bayangan di balik AFF.”
FIFA ASEAN Cup
Infantino menyebut turnamen ini akan berada di bawah kalender resmi FIFA. Artinya? Klub-klub di seluruh dunia wajib melepas pemain mereka untuk membela negara. Bagi Indonesia, ini kabar besar. Tidak ada lagi drama Calvin Verdonk, Jay Idzes, atau Elkan Baggott yang tak dilepas klub.
Semua pemain diaspora bisa tampil, dan Timnas Indonesia akhirnya bisa turun dengan kekuatan penuh di setiap laga resmi. Inilah revolusi yang tak bisa dilakukan oleh AFF selama bertahun-tahun. AFF lebih sibuk menjadi panggung politik sepak bola daripada ruang kompetisi sehat.
Ketika negara-negara lain bermain dengan agenda, FIFA kini menegakkan aturan: sepak bola harus universal, bukan milik sekelompok elite regional.
'Piala ASEAN FIFA' ini bukan sekadar turnamen, tapi bisa menjadi mekanisme pembersihan sistem lama. Sebuah cara elegan FIFA untuk menyingkirkan dugaan-dugaan mafia dan kepentingan yang menumpuk di tubuh AFF.***