Derita Warga Gaza untuk Cari Makan?
Mencari Makan di Pembuangan Sampah.-screnshot-
Sejak akhir Mei, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat ratusan warga telah tewas saat mencoba mengakses bantuan di lokasi GHF.
Di sisi lain, GHF menyatakan telah mendistribusikan 3 juta porsi makanan tanpa insiden di tiga lokasi bantuan mereka. Namun, di lapangan, kenyataannya jauh berbeda.
Hind Al-Nawajha, yang telah tinggal di tenda darurat di Kota Gaza bersama keluarganya, mengaku sudah 20 hari tidur di pinggir jalan demi bisa mendekati truk-truk bantuan.
Ia dan adiknya mencoba menerobos kerumunan di titik distribusi, tapi sering terdesak oleh para pria yang bahkan saling berebut karung tepung dari truk-truk PBB.
“Kalau tidak ada makanan, anak-anak akan menangis dan marah,” kata Hind.
“Kami berjalan kaki tiga sampai empat kilometer, atau lebih. Kaki kami penuh luka dan sepatu sudah hancur.”
Krisis Kemanusiaan
Perang Gaza yang dipicu oleh serangan kelompok Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023—yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya—telah berubah menjadi krisis kemanusiaan besar-besaran.
Hingga kini, lebih dari 55.600 warga Palestina tewas, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, sementara lebih dari 2 juta orang telah kehilangan tempat tinggal. Akses ke kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat berteduh pun nyaris tidak ada.
Norwegian Refugee Council memperingatkan bahwa lebih dari 1 juta orang kini hidup tanpa tempat berlindung yang layak, karena pengiriman tenda dan terpal telah diblokir oleh Israel sejak 1 Maret.***