Ingin Damai? Rusia Ajukan Syarat Berbelit, Putin Ultimatum Ukraina!
Vladimir Putih-screnshot-
Opsi Gencatan Senjata
Dalam pertemuan damai di Istanbul pada Senin 2 Juni 2025, Rusia memberikan daftar panjang tuntutan kepada Ukraina jika ingin mengakhiri perang yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Rusia juga menawarkan dua opsi gencatan senjata sementara:
Penarikan total pasukan Ukraina dari 4 wilayah yang diklaim Rusia.
Ukraina harus menghentikan semua pergerakan militer, mengakhiri bantuan militer asing, mencabut status darurat militer, dan menyelenggarakan pemilu dalam waktu 100 hari.
Menurut pengamat, kedua opsi ini sangat sulit diterima dan lebih menguntungkan Rusia yang kini mulai unggul di medan perang.
Hasil konkret satu-satunya adalah kesepakatan tukar tahanan perang, khususnya untuk prajurit muda dan yang luka berat, serta pemulangan 12.000 jenazah tentara dari kedua belah pihak.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menyebut ini sebagai “pertemuan besar” dan menyatakan keinginannya mempertemukan Putin, Zelenskiy, dan Donald Trump dalam satu forum langsung di Turki.
Namun, tidak ada kemajuan soal gencatan senjata yang didesak oleh Ukraina, AS, dan Uni Eropa.
Ukraina Tak Akan Menyerah!
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy tetap bersikeras tidak akan tunduk pada tekanan Rusia.
“Kami tidak akan menyerah, tidak akan mengikuti ultimatum. Tapi kami juga tidak ingin perang. Kami menunjukkan kekuatan karena musuh tidak mau berhenti,” ujarnya.
Ukraina juga mengusulkan pertemuan lanjutan sebelum akhir Juni dan menyatakan bahwa pertemuan langsung antara Zelenskiy dan Putin adalah satu-satunya jalan keluar.
Isu kemanusiaan turut dibahas. Ukraina menyerahkan daftar 400 anak yang mereka tuduh diculik Rusia. Namun, Rusia hanya mau bekerja untuk mengembalikan 10 anak saja. Moskow berdalih anak-anak itu dipindahkan demi keselamatan dari zona perang.
Ukraina Serang Markas
Di medan perang, Ukraina menunjukkan taringnya. Mereka meluncurkan 117 drone dalam operasi bernama "Spider’s Web" ke wilayah Siberia dan utara Rusia — jauh dari garis depan — menargetkan pesawat pengebom nuklir Rusia.