Dari gardu itulah kami menikmati listrik malam hanya dari pukul enam sore sampai 12 malam. Listrik pagi kembali menyala dari subuh sampai pukul tujuh pagi. Simbol penerangan sebelum datangnya PLN yang listriknya menyala sepanjang hari.
Tinggallah rumah mendiang Nek Jam yang didiami keturunannya. Halaman rumah yang dulu luas dengan pohon kelapa dan pohon cengkeh telah dibangun rumah untuk cucunya. Tanah Mang Sobran yang dulu luas, kini dibangun rumah-rumah anak-anaknya.
Rumah kami sendiri masih tetap ada. Namun saya pun bertanya-tanya, siapa kelak generasi yang menempati rumah tersebut: saya atau tiga saudara yang lain? Ataukah bahkan kelak terjual dan tak berbekas? Tak ada yang tahu pasti.
Dari semua pembangunan dan perubahan, yang paling membekas adalah rumah Bik As yang kini hanya ditumbuhi ilalang dan singkong. Ini seolah berkata, semua yang ada saat ini bisa hilang tanpa bekas sama sekali. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat bahwa penghuni Kampung Stasiun Enam pernah begitu erat sosialnya.***