Tinggal Ilalang

Tinggal Ilalang

Minggu 26 Jul 2026 - 16:11 WIB
Oleh: Admin

Oleh Kristia Ningsih

Penulis tinggal di Bangka Belitung

 

SEMAKIN lama hidup, semakin saya sadar bahwa kehilangan bukti bahwa sesuatu itu benar pernah terjadi, rasanya pilu, walau tak sesakit kehilangan karena kematian.

 

Kampung halaman kami, Stasiun Enam, Belinyu, adalah taman bermain terbaik bagi kami, anak-anak 1990-an.  Ada dua jalur yang digunakan. Pertama, jalan umum untuk kendaraan. Kedua, halaman rumah yang saling tersambung tanpa sekat pagar yang jadi jalur jalan kaki sekaligus ruang bersosialisasi.

 

Sekolah kami berada di kampung tetangga, Kampung Parit Dua. Ketika itu, Bangka Belitung masih menjadi bagian dari Provinsi Sumatra Selatan. Setelah menjadi provinsi sendiri, berubahlah nama sekolahnya. Dari SDN 352 Bangka kini disebut SDN 17 Belinyu.

 

Ketika besi dipukul teng-teng-teng, kami berhamburan keluar kelas. Pada jam istirahat itu kami berburu kemunting di halaman belakang sekolah yang dulu tak memiliki pagar. Saku-saku baju kami terkadang berwarna ungu karena kemunting tilong (terlalu matang) yang saling bertumpuk. 

 

Hingga kini saya masih penasaran durasi jam istirahat kami. Kami sibuk menarik-narik tangkai kemunting, mengumpulkannya dulu, lalu membawa ke pekarangan sekolah, duduk di teras atau balkon, baru menikmati hasilnya. Itu tentu tak sebentar, bukan? Tetapi saya tak ingat dihukum terlambat masuk.

 

Berbeda dengan ketegangan jika kami keluar sekolah ke toko Ko Anen. Kami membeli mi Sakura untuk dimakan mentah-mentah. Minya diremas-remas dan bumbunya ditaburkan. Ada rasa khawatir terlambat masuk. Setelah 26 tahun berlalu, Ko Anen yang tak pernah tambun itu masih membuka tokonya. Ia masih ramah. Ketika saya mudik dan membeli sandal ukuran kecil tanpa mengajak putri kami, katanya, "Bawala. Kalo dak muat boleh tukal a. Sampai tiga hali lo," (Bawa saja. Kalau sandalnya tidak pas, boleh ditukar kembali. Batas waktunya tiga hari).

 

Tags :
Kategori :

Terkait