Selanjutnya guru juga bisa menjadi seorang komedian/pelawak. Menurut Eduardus Fromotius Lebe, dalam dunia pendidikan (pembelajaran), sesekali guru dianjurkan untuk melawak agar menciptakan suasana kelas yang ceria. Asalkan tidak keluar konteks dari hakekat pembelajaran. Secara sederhana, melawak berarti membuat lucu atau jenaka. Melawak memiliki tujuan agar lawan bicara atau penonton tertawa. Membuat lawak bukan perkara gampang.
Apalagi lawakan yang cerdas agar penonton tercerahkan oleh lawakan tersebut. Sama halnya dengan guru yang sedang mengajar, sesekali melontarkan lawakan untuk menghidupkan suasana kelas yang suntuk. Saat mengajar guru bisa menyelipkan guyonan yang memancing perhatian siswa. Trik ini memang sekilas mudah, namun butuh kesiapan mental yang cukup. Sebab, bisa dibayangkan kalau lawakan tersebut ternyata tidak lucu, tentu suasana kelas akan semakin garing.
Menjadi guru entertainment tidak ada salahnya. Yang menjadi salah jika entertainment itu akan melalaikan tugas utamanya untuk mendidik. Sehingga sangat disayangkan jika ada sebagian guru yang menjadi entertainment yang sesungguhnya di saat ia masih aktif sebagai guru di sebuah lembaga pendidikan. Menjadi entertainment di sini tentu untuk mendukung profesinya. Jadi selain ilmu pengetahuan yang merupakan dasar bagi seorang guru dalam menjalankan tugasnya, guru juga harus menguasai ilmu-ilmu menjadi entertainment, setidaknya pada tiga kriteria tersebut. **