BANGKAKOTA (Bagian Tigabelas)

BANGKAKOTA (Bagian Tigabelas)

Senin 04 May 2026 - 18:02 WIB
Reporter : Tim
Editor : Syahril Sahidir

 Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP.

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

 

LANJUTAN dari Laporan Administratur Pangkalpinang kepada Residen Bangka, tertanggal, Pangkalpinang 13 Januari 1833 Nomor 6 /salinan ke- 4) /rahasia sebagai berikut:  

--------------

DEPATI Mindien yang menggantikan Depati Amir juga ingin meletakkan jabatannya dengan senang hati, dan beralasan, bahwa sudah lima tahun jabatan depati dijalani, dan darinya ia merasa pendapatannya tidak mencukupi. Selanjutnya, saya mohon usul kepada Anda untuk tidak memberhentikan (Mindien) dari tugas gubernemen secara definitif, melainkan dirinya dialih tugaskan ke tempat lain. Pemindahan ini tidak diikuti dengan kenaikan pangkat. 

Motif alasan permohonan pengunduran dirinya, bagi saya tidak dapat diterima. Muncul pertanyaan saya untuk menjelaskan maksud demikian lebih jauh. Mengapa ia bersikap seperti itu. Rakyat Merawang sudah sejak dulu berada di bawah kekuasaan ayahnya (Depati Bahrin), dan mereka menyeleksi (calon-calon pemimpinnya), dan ia (Mindien) terpilih untuk itu. Oleh komisaris yang dulu ia pun telah diangkat. Namun begitu, ia telah diperintahkan oleh beberapa orang untuk mengundurkan diri (tanpa saya ketahui sebabnya untuk dapat dijelaskan).  

Demikian juga menimpa para pendahulu yang masih tersisa. Kepada Demang Pasirah, penguasa distrik itu, juga diajak ke jalan yang salah, Ia diperintahkan oleh Mindien, untuk menjaga ketaatan mandor tambang, dengan dalih apabila kekuasaannya (jabatan Demang Pasirah) masih tetap ada (padanya). Pernyataan ini berbarengan dengan informasi akan diadakannya pemilihan umum, dan di sisi lain (Demang Pesirah) masih ingin bekuasa (printa njang tiada pantas). Seperti waktu sebelumnya, di distrik Merawang diberlakukan kembali pengawasan administrasi. Menurut lazimnya, ia (Mindien) tetap diakui haknya sebagai depati dan rakyat tetap menaatinya sebagai depati, meskipun kedudukannya hanyalah sebagai pejabat sementara. Sejauh mana perkataan terakhir dari Mindien ini dapat diterima. Berdasarkan pengalaman matang, saya percaya ketenangan yang baik dapat terpelihara. Jika sebagai penguasa pribumi dia diberhentikan, dan selanjutnya wilayah itu tidak menjadi bagian dari Kampung Ayer Nangka, ada dugaan bahwa Mindien, dengan pengangkatan baru ini, tidak merubah ibukotanya. Jika ini terjadi, maka ia akan sangat sedikit mendapat dukungan rakyat, dan tidak akan selamanya ia dapat menggunakan wewenangnya dari jabatan depati. Bagian terakhir dari ulasan ini, adalah usulan pembuangan bagi ketenangan rakyat. Saya usul kepada Anda, Amir dan Mindien, agar dijauhkan dari wilayah/distrik yang sedang mereka tempati. Selanjutnya, ditunjuk tempat tinggal untuk mereka. 

Akhirnya saya mengusulkan penggabungan Mundo Barat dan Mundo Timur (Mendo Barat dan Mendo Timur). Penggabungan Dua wilayah under distrik ini dilakukan berdasarkan pengalaman saat serangan para pengikut Depati Amir, seperti yang dilakukan oleh Bujang Singkiep yang sulit untuk ditumpas karena sulitnya pergerakan dan kontrol pasukan terhadap Dua wilayah under distrik. Untuk efektifitas rentang kendali terhadap pemerintahan dan pergerakan pasukan militer dan pengamanan terhadap tambang tambang Timah milik pemerintah Hindia Belanda, Under distrik Mundo Barat dan Mundo Timur (Mendo Barat dan Mendo Timur) kemudian disatukan dan sekarang hanya dikenal dengan Mendo Barat.  

Dengan berhentinya perlawanan rakyat Bangka akibat diterimanya tawaran perundingan oleh Bahrin, maka para pengikut setianya seperti Batin Tikal, bersama panglima Tjekong Moenjoel dan dua putera Demang Singayudha yaitu Djamal dan Djaja juga ikut berhenti berperang. 

Pada Perang di Bangkakota saat serangan Kedua yang dilakukan oleh  Pasukan terlatih militer Belanda berhadapan dengan para pejuang Bangka, Tanggal 8 Oktober 1819, berdasarkan Laporan A. Meis Tahun 1821 halaman 138,139 pada Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819, tentang jumlah korban di pihak pasukan Belanda, dinyatakan: “ Van de 230 man, die onder Kapitein LAEMLIN den togt naar Banka-kotta hadden medegemaakt, waren 4 gesneuveld en 19 gewond; bovendien waren er ten gevolge van de vermoeijende marschen, de ontberingen, de ongezondheid der bosschen en moerassen, en de vertraging in den terugmarsch, l officier eri 4S man gestorven en moeslen nog 2 officieren en 63 man in het hospitaal te Muntok achtergelaten worden”. Mengenai jumlah korban dalam laporan ini agak berbeda dengan laporan terdahulu. Pada Laporan A. Meis dinyatakan: Dari 230 orang yang ikut serta dalam pertempuran ke Banka-kotta di bawah pimpinan Kapten Laemlin, 4 orang tewas dan 19 orang terluka; terlebih lagi, akibat perjalanan yang melelahkan, kesulitan, kondisi hutan dan rawa yang tidak sehat, dan keterlambatan perjalanan pulang, 1 perwira dan 4 prajurit meninggal dunia dan 2 perwira serta 63 prajurit masih harus ditinggalkan di rumah sakit di Muntok. Bila dibandingkan dengan laporan terdahulu, dalam Laporan A.Meis tidak dijelaskan tentang keberadaan 45 prajurit, apakah ikut tewas atau mengalami luka luka.

Karena kekurangan amunisi dan persenjataan Bangkakota kemudian dibumi hanguskan sendiri oleh pejuang pejuang Bangka, bukan dibumi hanguskan oleh pasukan Belanda, hal ini dijelaskan dalam Laporan pada halaman 138-139, A. Meis Kapitein-Adjudant bij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische leger menyatakan: :Ofschoon de Kapitein LAEMLIN en de zijnen hunne onver moeide en moedige pogingen niet met de dadelijke inneming van de hoofdversterking van Banka-kotta bekroond hebben mogen zien, zoo heeft hun stoutmoedig gedrag en het ver branden der voornaamste ressources van den vijand, toch het gevolg gehad, dat deze, twee dagen nadat de onzen den te rugmarsch hadden aangenomen, zijne verdedigingswerken te Banka-kotta met eigen hand vernielde en in brand stak, en zich elders ging vestige” Maksudnya: Meskipun Kapten Laemlin dan anak buahnya tidak sempat menyaksikan upaya mereka yang tak kenal lelah dan berani membuahkan hasil berupa penaklukan langsung benteng utama Banka-kotta, tindakan berani mereka dan pembakaran sumber daya utama musuh tetap menghasilkan akibat bagi musuh, dua hari setelah pasukan kita memulai mundur, mereka menghancurkan dan membakar benteng-bentengnya di Banka-kotta dengan tangannya sendiri dan pindah untuk menetap di tempat lain.

Dalam buku Palembang In Banka 1816-1820, door P. H. Van Der Kemp, Halaman 561, “Het eerste wat Laemlin's tocht tengevolge had gehad, was dat  de muiters de positie van Banka-Kota verlieten, "na", rappor  teerde later de kapitein op hooren zeggen, het geheele fort te  hebben verbrand, zijnde hiertoe genoodzaakt geworden door het  gebrek aan levensmiddelen, daar dezelven, nevens al hunne rijk- dommen in de kampong Banka-Kota door ons zijn vernield ge- worden." Zij hadden zich nu, vernam Laemlin, begeven naar Kota  Wringin; uit nadere berichten blijkt, dat de muiters van Banka- Kota zich toen of later hadden opgeschoten te Nieri. Beide  plaatsen liggen in de nabijheid van straat Banka, de eene verre  ten noorden, de andere verre ten zuiden van Kota; zoodat feitelijk  de geheele west-en zuidzijde des eilands in handen der opstande- lingen verkeerden. Kota-Wringin was een gevaar voor het op  dezelfde hoogte oostwaarts gelegen Pankal-Pinang; Nieri beheerschte gansch het zuidelijk gelegen district Toboali”. Maksudnya: Konsekuensi pertama ekspedisi Laemlin adalah para pemberontak meninggalkan posisi Banka-Kota, "setelah," menurut laporan sang kapten kemudian melalui desas-desus, membakar seluruh benteng, karena terpaksa melakukannya akibat kekurangan persediaan, karena mereka, bersama dengan semua kekayaan mereka di desa Banka-Kota, telah dihancurkan oleh kami." Mereka sekarang, Laemlin mengetahui, telah melanjutkan perjalanan ke Kota Wringin; laporan lebih lanjut menunjukkan bahwa para pemberontak Banka-Kota telah maju di Nieri baik saat itu atau kemudian. Kedua tempat tersebut terletak di sekitar Selat Banka, satu jauh di utara, yang lain jauh di selatan Kota; sehingga secara efektif seluruh sisi barat dan selatan pulau berada di tangan para pemberontak. Kota-Wringin menimbulkan ancaman bagi Pankal-Pinang, yang terletak di sebelah timur pada garis lintang yang sama; Nieri mengendalikan seluruh distrik selatan. Toboali.

Dari buku Palembang In Banka 1816-1820, door P. H. Van Der Kemp, sangat jelas bahwa benteng di Bangkakota dimusnahkan sendiri oleh pejuang pejuang Bangka dan diketahui, bahwa kemudian para pejuang Bangka mnghindar dan membangun kekuatan di wilayah yang strategis di Nyireh dan di Kota Waringin. (Bersambung).

    

Kategori :

Terkait

Senin 01 Jun 2026 - 15:59 WIB

Nasionalisasi di Bangka Belitung

Senin 18 May 2026 - 16:23 WIB

BANGKAKOTA (Bagian Limabelas)

Senin 11 May 2026 - 16:16 WIB

BANGKAKOTA (Bagian Empatbelas)

Senin 04 May 2026 - 18:02 WIB

BANGKAKOTA (Bagian Tigabelas)