Kartini Masa Kini

Kartini Masa Kini

Senin 20 Apr 2026 - 16:34 WIB
Oleh: Admin

Di masa jahiliyah, perempuan diperlakukan tidak manusiawi. Banyak terjadi anak perempuan dikubur hidup-hidup. Baru di masa Rasulullah SAW, perempuan dihormati dan mendapatkan hak-hak sebagaimana laki-laki. Maka tidak mengherankan jika Siti Aisyah, istri Rasulullah bisa berperan penting dan mewarnai kehidupan masyarakat. Prestasi tersebut ia peroleh karena Nabi Muhammad memberikan kesempatan. Nabi Muhammad bahkan mendorong perempuan sebagaimana laki-laki untuk mencari ilmu tanpa dibatasi waktu dan tempat.

 

Terkait dengan emansipasi di atas, Muhammad Arifin Baderi, dalam muslim.or.id menyetujui adanya emansipasi selama dalam batasan yang wajar. Menurutnya fitrah, kodrat dan akal sehat setiap insan pasti mengakui adanya perbedaan lelaki dan wanita. Dan sudah barang tentu perbedaan ini menyebabkan adanya perilaku, hak dan tanggung jawab masing masing. Ada amalan yang cocok dan hanya bisa dilakukan oleh kaum lelaki, semisal kencing berdiri, demikian juga, ada amalan yang hanya pantas dilakukan oleh wanita, semisal memakai merah bibir dan pipi. 

 

Jika ditelaah dari pernyataan Muhammad Arifin Baderi di atas, emansipasi diperbolehkan dalam area-area tertentu saja. Ketika itu menyangkut fitrah, kodrat dan akal sehat maka tidak berlaku yang namanya emansipasi. Sehingga beliau juga menambahkan kodrat seorang lelaki yang menjadi pemimpin rumah tangga tidak bisa disamakan dengan seorang perempuan.

 

Fitrah seorang perempuan melahirkan tidak bisa disamakan dengan laki-laki, atau ada beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki tidak mesti juga dilakukan oleh seorang perempuan, semisal ronda malam yang dilakukan laki-laki tidak mesti dilakukan oleh perempuan. Serta masih banyak contoh-contoh yang lain terkait fitrah, kodrat dan hal-hal yang tidak bisa diemansipasikan. 

 

Terlepas dari pro dan kontra tentang emansipasi di atas, ada satu hal yang menarik dari Kartini yang dapat dipedomani dan diamalkan oleh perempuan zaman sekarang. Walaupun dibawa oleh Kartini di masa lampau, namun ajaran yang merupakan sifat Kartini itu masih relevan untuk dipraktikkan di masa sekarang. Sifat ini terkadang sudah hilang pada diri perempuan masa kini bahkan terkadang tidak ada lagi khususnya anak muda. Sifat itu adalah menghormati orang tua dan mengesampingkan ego.

 

Dahulu Kartini mengalami suatu dilema. Hal itu terjadi tatkala ia akan menikah. Di mana pada masa itu keluarga Kartini Ada gejolak di dalam hati Kartini saat harus menjalani pingitan. Namun, berbekal rasa hormat terhadap keluarga dan tradisi, beliau tetap mengikuti aturan tersebut. Ujian paling berat yaitu ketika sang ibu, Ngasirah, menolak mentah-mentah pemikiran Kartini untuk mengubah nasib perempuan. 

 

Hubungan antar ibu dan anak itu pun sempat renggang. Meskipun timbul rasa kecewa, perlahan Kartini kembali memperbaiki hubungan dengan sang ibu. Sejak adiknya, RM Sawito, lahir pada tahun 1892, Kartini melihat pengorbanan ibunya dalam merawat Sawito sepanjang hari. Ia menganggap kasih sayang seorang ibu takkan pernah bisa dibalas oleh apa pun.

 

Hal inilah yang dapat diambil contoh oleh kita semua -khususnya Kartini masa kini- bahwa berbakti kepada kedua orang tua di atas segala prestasi yang diraih. Karena itu berbakti kepada orang tua bukanlah sekedar balas jasa, bukan pula sekedar kepantasan dan kesopanan, tetapi berbakti kepada kedua orang tua merupakan perintah agama, lebih utama dari berjihad fi sabilillah dan salah satu pintu surga.

 

Tags :
Kategori :

Terkait