KORANBABELPOS.ID.- Setelah sempat tertunda di tahun-tahun sebelumnya, kali ini kajian untuk menghentikan eksport timah tampaknya bukan isapan jemol. Pemerintah tengah mengkaji dan mematangkan rencana itu.
Alasannya, menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, hilirisasi adalah mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Dan ekspor barang mentah harus digantikan produk hasil hilirisasi dalam negeri sehingga untuk memperkuat posisi ekonomi Indonesia.
Semakin matangnya rencana pelarangan itu, beertolak dari pengalaman positif Ketika pelarangan ekspor bijih nikel 2018-2019 yang membuktikan berhasil meningkatkan total ekspor nikel hingga sepuluh kali lipatnya di tahun 2023-2024.
''Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," ujar Bahlil.
Dan untuk mematangkan rencana itu, investor nasional diberi kesempatan termasuk sektor perbankan juga diminta menyuntikkan dananya.
Lebih jauh lagi, Program hilirisasi pemerintahan Prabowo Subianto, hingga 2040 mendatang, mencakup berbagai sector yang diprediksi akan mendatangkan investasi hingga USD618 miliar. Dari jumlah itu, USD498,4 miliar datang dari subsektor mineral dan batubara (minerba) dan USD68,3 miliar dari minyak dan gas bumi.***