Cumi Bangka (Bagian 1)

Cumi Bangka (Bagian 1)

Minggu 15 Feb 2026 - 20:41 WIB
Oleh: Admin

Penempelan telur cumi bangka biasanya terjadi pada malam hari dan sangat jarang terjadi pada siang hari. Berbeda dengan cumi karang atau cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessoniana) yang dapat terjadi pada siang hari. Penetasan telur terjadi pada malam hari berbentuk langsung berupa anakan cumi dengan tentakel yang masih sangat kecil dan terdapat kuning telur pada bagian pangkal mulut dengan ukuran panjang tubuh sekitar 0,5 cm. Anakan ini sudah bisa mengeluarkan tinta untuk melindungi diri dari predator. Penetasan di malam hari berfungsi untuk mengurangi pemangsaan anakan cumi-cumi yang baru menetas dari predator.

 

Cumi bangka bertelur di perairan yang lebih dangkal. Saat telur menetas anakan kemudian menuju perairan yang lebih dalam untuk mencari makan, tumbuh semakin besar, dan kawin (spawning). Artinya cumi bangka melakukan pola migrasi dari perairan dalam menuju perairan dangkal untuk bertelur dan sebaliknya dari perairan dangkal menuju perairan dalam untuk pembesaran dan kawin. Perairan yang dangkal biasanya di daerah pesisir (sekitaran pantai, ekosistem padang lamun, atau terumbu karang), di daerah beting atau gosong pasir di tengah laut. 

 

Cumi Bangka, Anugerah yang Tidak Disyukuri? 

Mohon maaf jika judulnya kurang nyaman saat dibaca. Tapi inilah kesimpulan pahit yang paling layak ditulis berdasarkan realita yang terjadi di lapangan. 

 

Mendambakan perhatian pemerintah daerah untuk kelestarian cumi bangka agar dapat bernilai maksimal bagi masyarakat dan keberlanjutan seperti Norwegia dengan Salmonnya, atau Amerika Serikat dengan Kepiting Alaska seakan mendirikan benang basah. Yang terjadi adalah semua masih dibiarkan sesuai selera pasar dan selera alam yang cenderung serakah dan kejam. 

 

Hampir tidak ada perhatian nyata dalam intervensi program untuk melestarikan dan mengembangkan potensi cumi bangka. Memang sudah ada ditetapkan Kawasan Konservasi Perairan di Perairan Tuing Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka dengan salah satu target utamanya untuk perlindungan cumi-cumi pada awal Tahun 2023 (Keputusan Menteri Kelautan Perikanan Nomor 1 Tahun 2023). 

 

Kawasan konservasi ini memiliki luas sekitar 7.372,5 Ha. Terdengar lumayan padahal luasan ini hanya sekitar 0,11% dari total luas perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sangat kecil bukan. Hebatnya, hingga saat ini kawasan konservasi tersebut belum dilakukan intervensi program nyata untuk perlindungan cumi bangka oleh pemerintah daerah kita. 

 

Akhir tahun 2025, Cumi Bangka hasil tangkapan nelayan pancing dihargai oleh tengkulak di pinggir pantai sekitar Rp 107.000,-/kg (lokasi Pantai Rebo Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka). Ini harga di tengkulak pinggir pantai bukan harga di pasar. 

 

Bisa jadi harga dipasar lebih murah karena cumi-cumi sudah gembrot bin gemoy karena sudah direndam semalaman di air es oleh pengepul sehingga beratnya bisa naik hingga 15% dari timbangan awal. Namun membeli Cumi Bangka di pasar untuk ukuran ekspor yaitu ukuran panjang mantel (badan saja, tidak termasuk kepala dan tentakel) lebih dari 15 cm tidak cocok bagi kaum mendang mending karena kemungkinan besar mending ganti beli ikan rucah. 

Tags :
Kategori :

Terkait