“Sekarang bapak mau bertanya.”
Misbar yang bertugas sebagai guru piket hari itu menyapa siswa-siswa tersebut.
“Kenapa kalian berpenampilan seperti ini?”
“Penampilan kalian ini tidak pantas untuk disebut sebagai siswa sekolah.”
Siswa-siswa itu masih diam, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.
“Jawab”
Kali ini Misbar mulai emosi. Ia merasa tidak dihargai. Ia merasa siswa-siswa itu tidak menganggapnya.
Raut ketakutan jelas terpancar dari siswa-siswa yang bermasalah itu. Siswa-siswa itu menyadari Misbar memang sedang marah.
Ketakukan mereka bertambah, karena mereka tahu jika Misbar terkenal dengan guru yang sangat disiplin dan tidak punya toleransi jika menerapkan sanksi.
Sanksi sekolah itu sebenarnya sudah diketahui oleh siswa-siswa itu karena tercantum dalam peraturan sekolah, namun kemungkinan mereka abai dan tidak mengindahkannya. Salah satu poin peraturan itu adalah siswa tidak boleh berambut panjang dan tidak boleh mewarnai rambutnya. Poin inilah yang disangkakan kepada siswa-siswa tersebut.
“Sesuai aturan, maka rambut kalian harus dipotong.”
Misbar memegang erat gunting yang sudah dibawanya sedari tadi. Satu persatu rambut siswa itu dipotongnya. Namun karena ia bukan seorang barber yang andal, potongan rambut siswa itu sangat berantakan. Selama proses pemotongan beberapa siswa, semua berjalan lancar, tidak ada perlawanan sama sekali. Sampai pada siswa yang terakhir dengan rambut berwarna coklat, Misbar tanpa ragu.