Oleh: Syamsul Bahri, S.Pd.I
Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
Di zaman sekarang, setiap hari kita tidak ketinggalan untuk melihat handphone. Berbagai platfrom media sosial selalu jadi tujuan kita. Mulai dari hanya melihat status orang sampai membaca berita yang mungkin saja viral. Kegiatan tersebut tanpa kita sadari adalah sebuah kegiatan yang tergolong ke dalam kegiatan literasi. Dan secara tidak sadar sebenarnya kita sudah termasuk seorang penulis, walaupun tentunya dalam skala yang super micro.
Dengan kita menulis status di media sosial setiap hari, kita sudah melatih untuk menjadi seorang penulis. Tulisan-tulisan kita di media sosial tentang perasaan, kegiatan, dan perasaan kita nanti akan dibaca oleh teman atau orang yang berteman dengan kita. Nanti jika kita beruntung maka teman atau orang yang berteman tadi akan merespons dengan tulisan juga. Artinya secara tidak langsung setiap hari kita sudah berkarya dalam bentuk tulisan.
Dari aktivitas kita di media sosial setiap hari itu sebetulnya dapat kita kembangkan ke dalam karya yang lebih macro. Namun terkadang kita tidak mampu atau mungkin tidak mau menulis lebih banyak lagi. Menurut penulis setidaknya ada tiga tipe orang menyikapi hal tersebut. Pertama ada yang beranggapan menulis adalah sebuah pekerjaan yang membosankan.
Bagi mereka yang beranggapan seperti ini tentu berpikir menulis adalah sebuah hal yang sia-sia. Jika sudah ada asumsi demikian bersemayam dalam diri tentu tidak ada lagi api semangat untuk berkarya. Kedua, ada lagi sebagian orang yang memiliki ketakutan ketika hendak menulis.
Orang tipe yang kedua ini terkadang memiliki potensi yang bagus, terkadang ia tidak menyadari bahwa dirinya mampu untuk menghasilkan tulisan yang baik dan mungkin dapat menginspirasi para pembacanya, namun kekuatan rasa takut terkadang menguasainya. Sebenarnya jika ia mampu melawan rasa takutnya, tidak menutup kemungkinan karyanya akan tampil di muka umum. Kemudian tipe yang ketiga adalah orang yang memang malas untuk menulis. Tipe yang ketiga ini tidak akan pernah menulis selagi rasa malas itu tetap dipeliharanya.
Menurut penulis, tipe-tipe di atas bisa diobati oleh pribadi masing-masing. Pertama kegiatan menulis itu bukanlah pekerjaan yang membosankan, sebab jika memang sudah mencintai kegiatan tersebut maka kegiatan yang lain justru bisa yang “membosankan”.