Oleh: Rudiyanto, S.Pd.,Gr
Guru Pendidikan Agama Islam dan Penulis Bangka Selatan
Sosok ayah merupakan sosok yang sangat fundamental dalam mendukung tumbuh kembang anak. Tanpa peran yang memadai dari seorang ayah, maka perkembangan dan pertumbuhan anak tidak akan berjalan secara optimal dan bahkan akan menghambat masa depan anak.
Berdasarkan data dari UNICEF tahun 2021, sebanyak 20,9 persen atau setara dengan 15,9 juta anak-anak di Indonesia telah kehilangan peran dari seorang ayah. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor seperti kematian, perceraian hingga kesibukan dan pekerjaan seorang ayah.
Selaku pendidik, fenomena fatherless pada satuan pendidikan sangat terlihat ketika ada pertemuan orang tua wali peserta didik dan kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan orang tua wali peserta didik. Perwakilan orang tua wali peserta didik didominasi oleh ibu-ibu dan kehadiran bapak-bapak sangat sedikit sekali. Beragam alasan para bapak-bapak mulai bermunculan seperti sibuk bekerja, tidak ada waktu dan lain sebagainya. Padahal, satuan pendidikan hadir dan menyelenggarakan kegiatan bersama orang tua wali peserta didik karena ingin menjalin kolaborasi bersama orang tua wali peserta didik dalam rangka untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas untuk para peserta didik agar masa depan bangsa Indonesia memiliki kognitif (pengetahuan), psikomotorik (keterampilan) dan afektif (sikap) serta karakter yang memadai guna menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Beberapa dampak dari fenomena fatherless antara lain anak akan mengalami gangguan perilaku seperti hilangnya tanggung jawab dan terjerumus pada perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dan anak tersebut akan mengalami ganggu psikologis maupun emosional yang serius. Gangguan perilaku akan terjadi pada anak-anak yang mengalami fatherless karena sosok ayah memegang peran penting sebagai penanggung jawab keluarga dan sebagai kepala keluarga. Jika sosok ayah kurang berperan dan bertanggung jawab dalam proses tumbuh kembang anak, maka anak akan mengalami gangguan perilaku seperti kenakalan remaja, bullying, intoleransi, kekerasan seksual dan lain sebagainya. Selain gangguan perilaku, anak yang mengalami fatherless akan mengalami gangguan psikologis dan emosional yang serius seperti merasa kurang aman, tidak percaya diri dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan sosok ayah cenderung jarang hadir dalam memberikan rasa aman dan kekuatan pada anaknya.
Menurut hemat penulis, beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menekan angka fenomena fatherless antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan Pranikah yang Memadai
Pendidikan pranikah sangat penting untuk mempersiapkan para calon kedua orang yang memiliki peran dan tanggung jawab. Pendidikan pranikah ini dapat dilakukan melalui lembaga seperti (Kantor Urusan Agama) dan lain sebagainya. Selain itu, sosok pasangan hidup juga harus dipertimbangkan secara matang terutama dalam hal tanggung jawab dan perilaku sehari-hari. Pernikahan adalah ibadah yang sangat sakral. Oleh karena itu, sebisa mungkin para orang tua dapat menjadikan rumahku surgaku (bayti jannati) yang memberikan kenyamanan bagi anak dan keluarga
2. Gerakan Ayah Teladan Indonesia
Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) digagas oleh BKKBN yang tujuannya adalah untuk mendorong sosok ayah untuk lebih terlibat lagi dalam membersamai tumbuh kembang anak. Gerakan ini dapat berupa mengantarkan anak ke Sekolah, mengambil raport anak, menghadiri pertemuan orang tua wali peserta didik dan lain sebagainya
3. Sosialisasi dan Kampanye Pentingnya Peran Ayah bagi Anak
Satuan pendidikan atau lembaga terkait hendaknya dapat mengadakan sosialiasi dan kampanye terkait pentingnya peran ayah bagi anak. Satuan pendidikan dan lembaga terkait dapat mengundang pemateri yang mumpuni dalam bidangnya. Tujuannya adalah para ayah dapat memahami bahwa sosok ayah sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak seperti mengajarkan tanggung jawab, sikap bijaksana, karakter positif, kepemimpinan, spiritual, sosial dan lain sebagainya.(*)