“Sudah jam Sembilan begini belum datang?” ketus Bapak itu.
“Biasanya jam tujuh Bapak kepala sekolah sudah datang, pak!” belanya.
“Lalu kenapa hari ini terlambat?” bertambah geram saja Bapak itu.
“Tadi, Bapak kepala sekolah mengirim WA, katanya beliau terlambat karena mengalami kecelakaan, jadi beliau harus jalan kaki menuju ke sekolah”
“Kecelakaan? Jalan kaki?” kenapa tidak naik angkot saja?” pertanyaan beruntun dilontarkan Bapak itu kepada lelaki yang ternyata berprofesi sebagai penjaga sekolah itu.
Sang penjaga sekolah tidak menjawab pertanyaan beruntun dari sang Bapak. Ia hanya mengangkat kedua bahunya, lalu pergi meninggalkan bapak itu.
***
Bapak itu mendekati pintu yang bertuliskan “Ruang Kepala Sekolah”. Perasaan aneh mulai menghinggapi dirinya, berat rasa kakinya melangkah masuk ke ruangan tersebut. Tidak dipungkiri ia merasa gugup jika berurusan dengan pihak sekolah, apalagi ini terkait dengan permasalahan anaknya. Namun ia memberanikan diri mengetuk sebanyak tiga kali.
“Ya silakan masuk” suara seorang lelaki dari dalam ruangan yang berukuran 3x4 meter itu.
Ruangan itu tertata rapi. Dalam ruang itu ada sebuah AC, namun tidak dihidupkan. Menurut cerita sang kepala sekolah memang tidak menginginkan terlalu sering ber-AC. Sang kepala sekolah lebih suka dengan semilir angin yang berasal dari luar ruangannya, sehingga jendela ruangan itu selalu terbuka ketika sang kepala sekolah berada di dalamnya.
Suaranya tampak gagah dan berwibawa. Ketika mendengar suara itu, sang Bapak langsung teringat akan suara seorang lelaki. Lama ia berpikir, menata memori otaknya, mengingat-ingat kembali siapa pemilik suara yang baru saja didengarnya.