Karena beliau guru sejati, ia mafhum bahwa cinta adalah "senjata" terbaik untuk memerangi segala potensi ketidakstabilan bangsa karena merebaknya egoisme, keakuan atau kesombongan yang berakibat pada peminggiran nilai-nilai kemanusiaan.
Itulah, saat dia meminta maaf pada khalayak guru atas pernyataannya, saya menilai secara bersamaan dia juga meminta maaf pada dirinya. Karena siapa di antara guru yang lebih guru dari dirinya. Tanpa membuang waktu, dia memilih meminta maaf, padahal dia bisa menjelaskan panjang lebar apa sesungguhnya yang dia maksud ketika menyampaikan pernyataan yang terpotong itu di media sosial. Beliau tidak mau melakukannya, karena sebagai guru sejati, mungkin hanya satu yang dia hindari seperti yang bisa dinilai selama ini, dia tidak mau menjadi "guru yang suka menggurui."(Sumber kemenag.fo.id, dengan judul yang sama)