Bendera dalam Secangkir Kopi dan Kue

Bendera dalam Secangkir Kopi dan Kue

Rabu 20 Aug 2025 - 19:47 WIB
Oleh: Admin

Mang Arpan mengirup kopi sembari meresapi nasihat dari kakek. 

 

“Dahulu mengibarkan bendera saja menjadi pertaruhan nyawa, berbeda dengan sekarang  yang hanya membeli bendera bermodal uang lima belas ribu, itupun kalian masih ingin mengibarkan bendera one piece !”

 

“Bagaimana anak muda akan mengenal siapa pahlawannya, jika apa yang ia baca adalah bacaan superhero dari Jepang!”

 

Saya penasaran dengan bacaan milik kakak. Saya tahu di perpustakaan ada komik dari Jepang one piece. Tokoh fiktif Monkey D Luffy  yang sedang diperbincangkan khalayak. Katanya dari pada mengibarkan bendera negara, lebih baik menaikkan bendera bergambar tokoh kartun itu. Lalu saya berpikir betapa inspiratifnya tokoh khayalan ini, hingga dipakai menyindir negara. Dari sekilas pandangan saya, tokoh anime dalam cerita itu berpetualang di tengah lautan, mirip dengan asal usul kita yang bangsa pelaut.  

 

Kakek menghirup kopi tokak  kesayangannya. Beliau membuka-buka buku lama yang sudah dibaca sejak empat puluh tahun yang lalu. Buku itu bergambar seorang pemuda  memegang bendera dan berupaya menancapkannya ke tanah. Ia bertelanjang dada. Di kepala pemuda itu terikat kain berwarna merah putih.

 

“Jangankan mengibarkan bendera, berkata ‘Merdeka!’ saja pasti orang itu akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Jadi kamu bayangkan betapa menghirup udara segar di hari ini terasa lebih mudah dibanding zaman dahulu. Napas yang dihirup masa penjajahan adalah berasal dari pertaruhan nyawa orang-orang yang berupaya membebaskan. Beda dengan yang sekarang mengaliri paru-paru kita ini kita dapat secara cuma-cuma. ”

 

“Menghargai bendera, berarti turut menjaga martabat bangsa ini. Bendera adalah hati sebuah bangsa. Menghargai bendera, berarti menjaga kehormatan dan jatidiri negara. Bendera itu lebih berharga dari nyawa, menghargai simbol adalah bukti kecintaan terhadap negara!”

 

“Kita bukan hanya merayakan, tetapi menghargai dan ikut menghormati. Zaman dulu tak ada udara bebas semacam sekarang.”

 

Tags :
Kategori :

Terkait