Oleh Silvia Dwi, M.Pd., M.M.
Guru SD Negeri 6 Pangkalpinang
MAYORITAS siswa Indonesia berada di tingkat literasi minimum atau bahkan di bawahnya. Sementara, jumlah siswa yang unggul secara akademik sangat kecil. Skor Indonesia dari hasil PISA 2022 dalam bidang matematika, membaca, dan sains secara konsisten berada di bawah rata-rata OECD (OECD, 2023).
Pada bidang matematika, sebanyak 82% siswa Indonesia tergolong berkinerja rendah. Situasi yang hampir serupa terjadi pada kemampuan membaca. Sebanyak 75% siswa Indonesia berada di bawah Level 2. Ini menandakan keterbatasan siswa dalam memahami dan menafsirkan teks tertulis. Untuk sains, sebanyak 66% siswa Indonesia berada di bawah Level 2, dan hanya 1% siswa yang mencapai Level 5 atau lebih. Rata-rata OECD dalam bidang ini menunjukkan 24% siswa tergolong berkinerja rendah dan 7% berkinerja tinggi.
Secara keseluruhan, hasil PISA terbaru ini adalah alarm penting yang menunjukkan bahwa semakin banyak siswa Indonesia tidak mencapai tingkat kemahiran dasar yang esensial. Data ini menuntut intervensi kebijakan yang mendesak dan terarah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan memastikan setiap siswa memiliki keterampilan yang memadai untuk masa depan.
Konsep "pembelajaran mendalam" adalah sebuah proses transformatif yang memberdayakan peserta didik untuk tidak hanya memahami dunia secara kognitif. Pembelajaran mendalam ini juga melibatkan siswa dalam pembelajaran bermakna dan menjadi agen perubahan. Ini adalah transisi esensial dari pembelajaran permukaan, di mana fakta-fakta hanya dihafal, menuju pemahaman konseptual yang kokoh. Siswa dilatih memiliki kemampuan berpikir kritis yang tajam, keahlian memecahkan masalah yang kompleks, dan kapasitas untuk menerapkan pengetahuan dalam konteks kehidupan nyata.
Konsep Pembelajaran Mendalam
Sekolah harus bergerak melampaui metode pengajaran tradisional untuk sungguh-sungguh menumbuhkan "pembelajaran mendalam" (deep learning) pada setiap siswa. Hal tersebut dikarenakan model pendidikan konvensional yang cenderung berfokus pada transmisi pengetahuan pasif dan hafalan, tidak lagi memadai untuk membekali siswa menghadapi kompleksitas dunia modern. Dalam dunia yang dicirikan oleh kompleksitas, perubahan yang cepat, dan tantangan global yang tak terduga, kemampuan untuk menghafal fakta-fakta menjadi tidak lagi cukup.
Pendidikan harus difokuskan pada pengembangan serangkaian kompetensi yang jauh lebih luas dan aplikatif, yang dirangkum dalam delapan kompetensi lulusan, yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa(Character), kewarganegaraan (Citizenship), kreativitas (Creativity), kemandirian, komunikasi (Communication), kesehatan, kolaborasi (Collaboration), dan berpikir kritis (Critical Thinking). Kompetensi ini dianggap esensial bagi siswa untuk tidak hanya berhasil secara akademis, tetapi juga untuk menjadi individu yang adaptif, inovatif, dan bertanggung jawab di abad ke-21 (Fullan & Langworthy, 2014).