Thawaf Kehidupan
Faisal Riza.-Dok Pribadi-
Oleh Faisal Riza
Dosen UIN Sumatera Utara
Dunia terasa bergerak begitu cepat, kompetitif, dan nyaris tanpa jeda. Dalam kecepatan gerakan tersebut manusia modern sering kehilangan satu hal paling mendasar yaitu arah hidup. Kita sibuk bergerak, berpindah dari satu target ke target lain, tetapi sering lupa bertanya, sebenarnya hidup ini sedang berputar mengelilingi apa?
Di titik inilah konsep thawaf menjadi menarik untuk direnungkan. Selama ini thawaf dipahami sebagai ritual ibadah dalam haji dan umrah: mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Namun, jika dimaknai lebih dalam, thawaf sesungguhnya bukan sekadar gerakan fisik. Ia adalah simbol tentang hidup manusia itu sendiri.
Secara bahasa, thawaf berasal dari kata Arab ‘ṭāfa’ yang berarti berkeliling atau mengitari sesuatu. Ada unsur gerak yang terus berulang, tetapi selalu memiliki pusat. Dan mungkin di situlah letak makna terpentingnya yaitu hidup yang bahagia dan sejahtera bukan hanya hidup yang bergerak, melainkan hidup yang tahu apa pusat orientasinya.
Alam semesta sendiri bergerak dengan pola seperti itu. Planet mengitari matahari. Bulan mengitari bumi. Bahkan dalam dunia mikroskopik, elektron bergerak mengelilingi inti atom. Semuanya berputar, tetapi tidak kehilangan pusatnya. Maka ketika manusia melakukan thawaf, sebenarnya ia sedang menyelaraskan dirinya dengan keteraturan semesta, bergerak tanpa kehilangan arah.
Masalahnya, manusia modern tampak sering bergerak tanpa pusat yang jelas. Kita sibuk mengejar karier, status sosial, pengakuan, kekayaan, bahkan pencitraan spiritual. Kita terus “berputar”, tetapi sering kali hanya mengelilingi ego kita sendiri. Akibatnya hidup terasa melelahkan. Banyak aktivitas, tetapi minim makna.
Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sosial dan politik. Politik hari ini misalnya, sering kehilangan orientasi nilai. Ia tidak lagi berputar pada keadilan atau kesejahteraan publik, melainkan pada perebutan kekuasaan semata. Para elite tampak terus bergerak, berpindah koalisi, membangun citra, melakukan manuver, tetapi publik sering merasa tidak benar-benar dibawa ke mana-mana. Politik akhirnya seperti orbit yang sibuk, tetapi kosong dari arah moral.