Harga dari Sebuah Buku dan Pembaca Sejati
Rusmin Sopian.-Dok Pribadi-
Oleh Rusmin Sopian
Penulis yang tinggal di Toboali
" Waw...Alhamdulillah. Dibayar lumayan sehelai buku Buk Geriul," ungkap.penulis kepada seorang teman ngopi minggu (10/5) pagi sembari memperlihatkan pesan WhatsApp yang masuk.
"Buku Datuk ini kan buku langka. Isinya kritik sosial. Jadi jarang orang membelinya. Wajar dihargai mahal," jawab teman ngopi tadi sambil tertawa ngakak.
Sebenarnya, sebuah buku dihargai diatas harga jual penerbit bukanlah sesuatu yang asing atau peristiwa baru. Bentuk apresiasi dari seorang pembaca untuk sebuah karya dari penulisnya. Apalagi bagi seorang pembaca sejati.
Bung Hatta adalah pembaca sejati. Dia dijuluki sebagai sosok intelektual yang gemar membaca buku. Bung Hatta diketahui mempunyai 8000 judul koleksi buku setelah kuliah di Belanda. Mengutip dari situs Kemendikbud Bung Hatta telah menulis sejak usia 16 tahun hingga usia 77 tahun.
Semasa hidupnya, Bung Hatta telah menghasilkan lebih dari 800 karya tulis dalam bahasa Indonesia, Belanda maupun Inggris. Bahkan ada kata bijak Mohammad Hatta yang menyentuh jiwa yakni "Aku Rela Di Penjara Asalkan Bersama Buku Karena Dengan Buku Aku Bebas."
Demikian pula dengan Gus Dur. Gus Dur. adalah seorang pembaca sejati. Tipe orang yang selalu membawa buku ke mana pun ia pergi. Membaca baginya bukan sekadar kegiatan, tetapi kebutuhan. Ia tidak membatasi dirinya pada genre atau ideologi tertentu. Sebagai seorang kiai, ia membaca Al-Qur’an dan kitab kuning dengan penuh kesungguhan. Tetapi sebagai seorang intelektual, ia juga membaca karya-karya Nietzsche, Marx, hingga Shakespeare.