Menjadi Guru Entertainment
Syamsul Bahri.-Dok Pribadi-
Oleh Syamsul Bahri
Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
Pepatah lama berbunyi guru kencing berdiri murid kencing berlari. Secara tidak langsung pepatah tersebut bermakna bahwa tingkah laku seorang guru akan diikuti oleh muridnya. Bahkan tingkah laku seorang murid terkadang akan melebihi dari apa yang dicontohkan oleh gurunya.
Sehingga tidak jarang akan ditemui seorang murid akan lebih emosi dalam menyelesaikan suatu permasalahan dikarenakan kemungkinan mereka pernah menyaksikan gurunya menyelesaikan permasalahan dengan cara yang sama. Sebagai role model, guru tentu akan selalu dijadikan panutan oleh sebagian murid.
Oleh karena itu, seorang guru harus benar-benar menampilkan sesuatu tingkah laku yang bisa mengubah muridnya menjadi lebih baik. Disadari atau tidak tingkah laku yang diperlihatkan seorang guru akan menjadi warisan bagi murid-muridnya. Jadi, warisan yang ditinggalkan seorang guru itu tidak hanya ilmu pengetahuan tetapi tingkah laku.
Tentunya semua guru sudah mengetahui konsekuensi memilih profesi sebagai guru. Maka dari itulah seorang guru dituntut untuk selalu perfect. Tuntutan kesempurnaan itu akan dilihat dari segala aspek. Guru dituntut menguasai ilmu pengetahuan yang mumpuni, guru juga dituntut untuk berpenampilan menarik ketika mengajar di depan kelas, bahkan guru juga akan dimonitor tatkala berada di rumah atau lingkungan sekitarnya.
Selain berpenampilan menarik ketika di depan kelas, seorang guru juga dituntut memiliki keterampilan untuk bisa menyenangkan muridnya. Apalagi di zaman modern ini, keterampilan menghibur itu seakan sudah menjadi sesuatu yang wajib untuk dikuasai seorang guru.
Menghibur disini tentunya dalam hal positif, dan menghibur untuk menyenangkan murid agar betah di kelas dan setia mengikuti pembelajaran dengan perasaan senang dan nyaman merupakan suatu keniscayaan bagi seorang guru. Jadi, seorang guru juga dituntut bisa menjadi seorang entertainment sejati.