BANGKAKOTA (Bagian Sepuluh)
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP.
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
SERANGAN terhadap Koba, Toboali, Keppo dan Djebus oleh rakyat Bangka digambarkan oleh P.H. van der Kemp...
----------------
TENTANG masa setelah pengambilalihan Belanda atas pulau Bangka dari tangan Inggris dan masa-masa awal kekuasaan Belanda di pulau Bangka:
“Inspecteur-Generaal Smissaert had in den ous bekendeu brief van 12 Maart 1817, een ongunstig tafereel opgehangen over sommige toestanden in Banka's binnenlanden,üe volkshoofden, de batin schreef hij,lachten om alle orders en het hoofd van Koba, op de oostzijde des eilauds, werd als een nietswaardig voorwerp beschouwd, dat het gouvernement met open oogen bedroog. De staat van zaken verergerde allengs; zelfs werd den 15 Mei 1819 het aan de zuidzijde gelegen mijndistrict Toboali aangevallenen afgelo open. De inueming van onze benting aldaar was toeteschrijven aan de wankelmoedige houding van den commandant, 2" luitenant Bury, die aan liet hoofd van 40 man den hem toevertrouwden post eenvoudig prijs gaf en op Pangkal-Pinang terugtrok, zouder éen man te hebben gewaagd . Weinige dagen daarna werd het dicht bij Toboali gelegen Kappo aangetast, doch de aanval door het hoofd aldaar, den kapitein der Chiueezen, afgeslagen Eenderde aanval had in Juni plaats in het district Djeboos ook die werd afgeslagen, doch de vijaud maakte zich meester van een onzer kanonneerbooten” (Kemp, 1900;544-545).
maksudnya:
"Inspektur Jenderal (residen) Smissaert dalam suratnya yang tertanggal pada 12 Maret 1817, sebuah situasi yang tidak menyenangkan terjadi di beberapa bagian wilayah pedalaman Banka, para kepala rakyat yang disebut dengan batin, menolak semua perintah Inspektur atau kepala distrik Koba, yang terletak di sisi Timur pulau Bangka. Mereka menentang secara terbuka pemerintah. Keadaanpun semakin memburuk; bahkan pada tanggal 15 Mei 1819, distrik pertambangan Toboali, yang terletak di sisi Selatan, diserang. Pemberontakan terjadi di sana disebabkan oleh sikap sang komandan yang gigih di wilayahnya, Letnan Dua Bury, dengan 40 orang pasukannya, berusaha mempertahankan wilayah dan jabatan yang dipercayakan kepadanya, dan kemudian mundur ke Pangkal-Pinang, salah satu wilayah yang telah ia jelajahi. Beberapa hari kemudian, Kappo (maksudnya Kepoh), yang dekat dengan Toboali, diserang, tetapi serangan dapat dipertahankan oleh kepala pasukan di sana, kapten Chiuese. Serangan Ketiga kalinya juga terjadi pada bulan Juni terhadap wilayah di distrik Djeboos, tetapi musuh ditangkap oleh salah satu pasukan bersenjata kami" (Kemp, 1900;544-545).
Sejumlah pos militer Belanda yang dimaksudkan diserang Bajak laut dan rakyat Bangka yang berada di pesisir Barat Laut pulau Bangka adalah Pos militer Belanda yang berada di Toboali, Bangkakota, Gudang dan Kotaberingin (Kotawaringin). Perjuangan bersenjata yang dilakukan rakyat Bangka dipimpin oleh Depati Bahrin dimulai dengan penyerangan terhadap pos militer Belanda di pesisir pantai Toboali (sekarang Benteng Toboali) dan tiga kali serangan terhadap pos militer Belanda di Jebus (pesisir Barat Laut pulau Bangka), serta penyerangan terhadap pasukan militer Belanda di daerah Gudang. Tokoh-tokoh pemimpin perlawanan rakyat Bangka yang memimpin perlawanan di samping Depati Bahrin adalah Batin Tikal di Bangkakota dan Gudang, Batin Pa Amien di Toboali, Batin Ganing di Nyireh dan Demang Singayudha serta Juragan Selan di Kotaberingin, serta ada satu tokoh lagi bernama Koessie, kaki tangan Depati Bahrin dalam pembunuhan Residen Smissaert.
Puncaknya pada tanggal 14 November 1819, atas perintah Depati Bahrin, residen Belanda Smissaert dibunuh dalam satu penyergapan dipimpin oleh Demang Singayudha dan Juragan Selan di dekat sungai Buku, perbatasan antara Desa Zed dan Desa Puding. Maka di dalam waktu ini tempoh jadi residen Bangka tuan Smitsar kembali dari Pangkal Pinang jalan darat lewat di tanah Jeruk dimana dekat kampung Puding. Di situ suruhan dipati Barin dengan demang Singayudha bunuh itu tuan residen Bangka nama tuan Smitsar dan kepalanya, Batin Tikal dari Bangka Kota bawa kasihkan kepada sultan Palembang (Wieringa, 1990:122). Batin Tikal menyampaikan kepada sultan agar membantu mereka berperang melawan Belanda, akan tetapi sultan Palembang tidak dapat membantu karena pada saat bersamaan juga sedang berperang. Akan tetapi sultan berjanji membantu dengan menaikkan harga beli Timah yang dijual ke sultan.
Terkait pembunuhan Residen ini dijelaskan dalam Militaire Spectator VERHAAL PALEMBANGSCHEN OORLOG VAN 1819-1821, DOOR, A. MEIS, Kapitein-Adjudant hij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandscht Oost-Indische leger, halaman 139:
“Het was op den 14den November dat de Resident Smissaert op de terugreis naar Muntok zijnde, en zich slechts van 5 of 6 gewapende oppassers hebbende doen vergezellen, bij den kampong Dauwet, op één dagmarsch aan deze zijde van Pankalpinang, door eehe bende van 150 tot 200 muitelingen over vallen en vermoord werd. De aanvoerder dezer bende was zekere -Batin -Barien, een hoofd dat eenige maanden vroeger voor eenen diefstal van 30 of 60 schuitjes tin, bij zijne onder hoorigen in bewaring gevonden , verantwoordelijk gesteld en vervolgens tot de vergoeding aangehouden zijnde, zich wegge maakt en bij de muitelingen van Banka-kotta gevoegd had. Den 18den November ontving men de eerste tijding dezer noodlottige gebeurtenis te Muntok. De Commissaris Muntinghe belastte zich aanstonds met het civiel bestuur der residentie. In het rapport over deze aangelegenheid, zeide hij te erkennen, dat de rust op het eiland Banka groolelijks verstoord was, doch zich niet te min vleijen, dezelve, na verloop van zekeren tijd en wel meest door onderhandelingen en overre ding, te zullen herstellen. De uitkomst heeft echter aan deze goede verwachting niet beantwoord.
Maksudnya: