Ajakan Tuan Mahmud Almarhaen
Marhaen Wijayanto.-Dok Pribadi-
Cerpen Marhaen Wijayanto
JIKALAU ada yang dirindukan oleh bunda, pastilah ia ayah. Sudah dua bulan sejak perang di timur tengah meletus, ayah dengan kapal tangkernya belum juga ada kabar. Kata presiden, sekarang pemerintah sedang negosiasi dengan Teheran agar kapal ayah bisa melewati Hormuz dan ayah bisa pulang.
Semenjak timah di kampung kami sepi, ajakan teman ke timur tengah sangat menggiurkan. Bagaimana tidak, negara di kawasan teluk sangat kaya minyak. Bagi ayah, daripada menunggu harga timah kembali naik, lebih baik menerima tawaran teman ayah yang keturunan arab untuk berlayar dengan kapal minyaknya.
Namanya Tuan Mahmud Almarhaen. Dialah guru yang mendadak jadi kaya raya karena berlayar ke timur tengah. Di saat gaji guru kembang kempis, Tuan Mahmud Almarhaen berani keluar dari zona nyaman. Beliau melebur batas nyaman menjadi seorang pengais minyak bernilai jutaan dolar.
Biasanya Tuan Mahmud Almarhaen hanya bermodal gaji paruh waktunya yang ratusan ribu untuk makan. Apalagi semenjak gajinya yang PPPK paruh waktu terancam tidak terbayar, ajakan juragan minyak di kota seperti berkah untuk Tuan Mahmud. Beliau tak lagi gelisah ketika anggaran belanja pegawai tinggal 30 persen. Karena dengan minyak yang ia angkut, kini Tuan Mahmud Almarhaen bisa merenovasi rumah dan membeli mobil.
Pernah suatu saat ia didatangi wali siswa. Bertanya kenapa gaji paruh waktu bisa membeli mobil mewah. Berapakah kiranya gaji yang ia peroleh, padahal sekarang sedang giat-giatnya penghematan?
“Timur tengah tidak ada efisiensi, Pak. Mereka sekarang lempar melempar jutaan dolar hanya untuk mempertahankan sejengkal daerah dan harga diri. Yakinlah, mereka tidak mengenal efisiensi! Di sana tidak ada makan gratis, semua membayar, tetapi yang didapat halal, bergizi, dan rasa yang enak!” ujar Tuan Mahmud.