Baca Koran babelpos Online - Babelpos

BANGKAKOTA (Bagian Lima)

Akhmad Elvian-screnshot-

 Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP

Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

   

TENTANG kehadiran Mahmud Badaruddin di Bangkakota, dalam catatan F.S.A. De Clercq:... “BIJDRAGE Tot De Geschiedenis van Het Eiland Bangka (Naar een Maleisch Handschrift)”, dalam Bijdragen Tot De Taal, Land, En Volkenkunde in Netherlands Indie (BKI), 1895. 

-----------------

HALAMAN 133 dijelaskan: “Terwijl Ratoe Mahmoed zich Bangka-Kota bevond, waren de vaartuigen, die Wan Akoeb met zijn broeders Wan Sirin en Wan Sabar overvoerden, afgedreven en de rivier Oelim binnengeloopen. Daar zagen zij veel sijamang's , waarom zij vermoeden, dat er tin zou wezen, om reden zij de bewerking van dit metaal door de Maleiers en Chineezen te Djohor gezien hadden. Zij gingen aan het graven aan de oevers dier rivier, vonden er veel tin en namen een stuk als monster mede. Toen Ratoe Mahmoed dit bericht vernam, was hij zeer verheugd en droeg aan de hoofden op om het geheele eiland Bangka te doorkruisen eu een onderzoek te doen naar de aanwezigheid van tinerts, dat zij op vele plaatsen aantroffen”. Maksudnya: “Saat Ratoe Mahmud berada di Bangka-Kota, kapal-kapal yang membawa Wan Akoeb bersama saudara-saudaranya, Wan Sirin dan Wan Sabar, telah hanyut dan memasuki Sungai Ulim. Di sana mereka melihat banyak sijamang, yang membuat mereka curiga bahwa ada timah di sana, karena mereka telah melihat pengolahan logam ini oleh orang Melayu dan Tionghoa di Johor. Mereka mulai menggali di tepi sungai, menemukan banyak timah, dan mengambil sepotong sebagai sampel. Ketika Ratoe Mahmud mendengar berita ini, ia sangat senang dan memerintahkan para kepala rakyat untuk menjelajahi seluruh pulau Bangka dan menyelidiki keberadaan bijih timah, yang mereka temukan di banyak tempat. Sementara menurut Arifin Machmud dalam bukunya Pulau Bangka dan Budayanya (tidak diterbitkan) dinyatakan, bahwa Encek Wan Akub telah meyakini kandungan Timah di Bangka sejak pelayarannya memasuki Sungai Bangkakota. Keyakinan ini dikarenakan keadaan tanah di Bangka yang sama dengan tanah di Johor. Dari segi geologi Sungai di Bangkakota lebih banyak mengandung deposit Timah daripada Sungai Ulim. Kandungan Timah di Sungai Ulim dapat ditemukan di salahsatu anak sungainya di bagian paling hulu dari sungai (Sujitno, 2011:139) 

Setelah Mahmud Badaruddin I berhasil menjadi Sultan Kesultanan Palembang Darussalam masa pemerintahan Tahun 1724-1757, konflik kekuasaan di Kesultanan Palembang Darussalam tetap berlanjut antara Sultan Mahmud Badaruddin I dengan kakaknya yaitu Anom Alimuddin. Perselisihan sangat tampak dan semakin meruncing hingga peperangan, terutama dalam hal penguasaan terhadap kekayaan bijih Timah di Pulau Bangka. Sultan Anom Alimuddin yang terusir dari Palembang membangun aliansi dengan orang-orang Bone, awalnya membangun kekuatan di Bangkakota dan kemudian membangun pusat kekuatan di Kubak (Stocade of Koba) Tahun 1722-1732. Jumlah orang dari Sulawesi Selatan yang datang ke pulau Bangka pada masa itu terus bertambah, terutama yang datang dari beberapa negeri seperti Johor, Linggi, Batu Bara, dan Inderagiri. Puncaknya ketika menjelang akhir Tahun 1729 Masehi, seorang bangsawan Bone, Arung Mappala tiba di pulau Bangka dari Banjarmasin. Dengan menggunakan kekuatannya, ia mampu menegakkan otoritasnya atas sekitar 400 (empat ratus) orang yang saat itu menambang Timah di Bangka. Dia (Arung Mappala) membuat markasnya di Tanjung Ular, titik tertinggi berbatu yang terlindung dari serangan dari laut, dari titik yang menguntungkan kapal-kapal Bugis dapat mempertahankan garis pantai Utara pulau Bangka sebagai milik mereka. A test of Sultan Mahmud’s resolve came toward the end of 1729 when a Bone prince, Arung Mappala, arrived on Bangka from Banjarmasin. Using a combination of persuasion and force, he was able to assert his authority over about four hundred Bugis who were then mining tin on Bangka. He made his base on Tanjung Ular, a high, rocky point protected from sea attacks by a reef, from which vantage point Bugis ships were able to preserve the northern coastline as their own (Andaya, 1993:187). Untuk menghadapi pasukan gabungan (koalisi) Sultan Anom Alimuddin dan pasukan Arung Mappala serta Raden Klip, Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo mengirimkan sekitar 500 pasukan dan 130 kapal perang dari Palembang menuju Bangka. Pasukan Sultan Anom Alimuddin dan pasukan Arung Mapala serta Raden Klip berhasil dikalahkan oleh pasukan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo, terutama setelah VOC (Abraham Patras) ikut membantu Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo mengusir pasukan koalisi melalui darat (Andaya, 1993:187). Atas bantuan VOC (Abraham Patras), pada Tahun 1731 Masehi, Arung Mappala berhasil diusir dari Tanjung Ular melalui serangan dari laut, selanjutnya Arung Mappala kembali ke Banjarmasin dan 100 pasukannya tertawan. Pasukan VOC (Abraham Patras) selanjutnya melewati darat menyerang benteng Raden Klip di Paku dan Raden Klip kemudian lari ke pulau Madura. 

Pasukan VOC selanjutnya dari Paku dan Bangkakota menuju Koba. Sepanjang perjalanan mereka menghancurkan benteng-benteng Sultan Anom dan akhirnya pada bulan Agustus 1731 Masehi, berhasil menghalau Sultan Anom dengan 500 pengikutnya dari Koba ke pulau Belitung. Pada Tahun 1735 Masehi, Sultan Anom Alimuddin kembali menyerang Palembang; Ia ditangkap dan dibunuh (Schuurman, 1898:9n). Tanpa bantuan VOC (Abraham Patras), Sultan Mahmud Badaruddin I, bisa saja kehilangan pulau Bangka dan seluruh kekayaan Timah dan Ladanya, termasuk Gambir dan Kapas. Bantuan yang diberikan VOC tidak cuma-Cuma akan tetapi dengan syarat harus membayar semua biaya perang yang telah dikeluarkan, dan sultan wajib "membasmi" semua tanaman Gambir dan tanaman Kapas di pulau Bangka. Kebijakan ini yang mengakibatkan tanaman Gambir dan Kapas tidak lagi dihasilkan di pulau Bangka. Sultan Palembang dan VOC kemudian hanya mengeksplorasi mineral Timah di pulau Bangka.

Pengelolaan Timah di Bangkakota, sungai Olim dan sungai-sungai di sekitarnya di wilayah pesisir Barat pulau Bangka kemudian diserahkan oleh sultan kepada Wan Seren dan anaknya Wan Adji atau Tuk Adji, sedangkan di wilayah Bangka Barat dan Utara diserahkan kepada Wan Akub. Tutur sapaan kakek/nenek dalam bahasa orang laut pribumi Bangka orang Sekak adalah “Nek” (Iwabuchi, 2013:19). Kemungkinan besar penamaan pantai atau laut Nek Adji di sisi Fort Toboaly berasal dari nama Wan Adji putera Wan Seren yang berkuasa penuh atas pengelolaan penambangan Timah di pesisir Barat pulau Bangka. Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo kemudian menetapkan Encek’wan Akub sebagai Datuk Rangga Setiya Agama, pemegang jabatan atas kekuasaan pemerintahan dan kepala urusan penambangan biji Timah di pulau Bangka. Demikian pula Encek’wan Abdul Djabar (bergelar Datuk Mertua Dalam) sebagai Datuk Tumenggung Perabu Nata Menggala yaitu jabatan penghulu agama Islam atau hakim agama Islam di pulau Bangka, oleh masyarakat Bangka dikenal dengan sebutan Datuk Dalam Hakim (Machmud, 1995:35).

Kekuasaan atas pulau Bangka dan pengaturan adat istiadat serta agama di pulau Bangka yang awalnya berpusat di Bangkakota dipindahkan ke Kota Mentok dilakukan oleh Wan Cek Abdul Jabar yang bergelar Datuk Dalam. Wan Cek Abdul Jabar diangkat menjadi hakim wakil sultan, menjadi kepala di atas sekalian tanah Bangka dari perkara ugama syariat Nabi Muhammad Rasulu’llah salla ‘llahu ‘alaihi wa-sallama, dan Wan Cek Akub dijadikan kepala di atas segala-segala pekerjaan membuat parit di tanah Bangka, maka segala patih dan batin-batin dengan orangnya disuruh coba kerja parit di bawah perintah datuk Akub (Wieringa, 1990:87). Sepeninggal Encek wan Akub dan Encek Wan Abdul Djabar, sultan susuhunan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo kemudian mengangkat Menteri Rangga di Kota Mentok Pulau Bangka yaitu Encek Wan Usman (Karim, dkk, 1996:8). Encek Wan Usman adalah putera dari Encek Wan Seren, saudara dari Wan Akub yang masih berkerabat dengan Zamnah istri sultan susuhunan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo. Menteri Rangga Usman berkuasa di pulau Bangka sebagai raja kecil yang bebas (vryheren). 

Bagi Kesultanan Palembang Darussalam, Pulau Bangka memiliki arti yang sangat penting di samping letaknya yang strategis sebagai batu loncatan untuk masuk ke pusat kesultanan di Kota Palembang, Pulau Bangka sangat potensial karena menghasilkan komoditas ekspor yang sangat penting pada waktu itu yaitu Lada Putih dan Timah Putih. Kegiatan monopoli perdagangan Lada dan Timah serta hasil dari pungutan pajak Timah Tiban dan Tukon dari Pulau Bangka kemudian menjadi sumber utama penghasilan Kesultanan Palembang Darussalam, di samping sultan memperoleh kekayaan dari adat perdagangan serah yaitu hak monopoli dagang yang dimiliki sultan atas penjualan beberapa jenis barang dengan harga yang telah ditentukan seperti besi, bahan pakaian kasar dan garam (Elvian, 2009:17-18). Sultan Kesultanan Palembang Darussalam memperoleh keuntungan yang besar dari monopoli perdagangan Lada dan Timah dunia yang dilakukan dengan bangsa Cina, Arab, India dan bangsa kulit putih dari Eropa. (Bersambung/***)

    

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan