Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Puasa Kok Sombong?

Ahmadi Sopyan-screnshot-

Oleh: AHMADI SOFYAN 

Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya

 

PUASA tidak mengajarkan kesombongan bagi yang menjalaninya, 

tapi justru sebaliknya. Puasa juga tidak mengajarkan kemanjaan 

bahwa harus dilayani, namun sebaliknya, melayani.

   

RAMADHAN beberapa tahun silam, sahabat dan mantan Boss saya saat masih bekerja sambil kuliah di Jawa Timur, David Davy Oscar, tiba-tiba datang dari Surabaya ke Pangkalpinang. Pengusaha penganut ajaran Katolik yang taat ini pun saya jemput di bandara Depati Amir Pangkalpinang dan langsung saya bawa ke kediaman di Graha Puri Selindung. Pagi harinya, sebelum kedatang sang tamu, kepada isteri saya sudah minta disiapkan berbagai makanan, buah-buahan serta pempek guna menyambut kedatangan mantan Boss sekaligus sahabat ini. Karena begitulah cara ia menyambut dan memperlakukan saya setiap kali saya datang ke Surabaya. 

Saya dan isteri yang sedang menjalani ibadah puasa Ramadhan, wajib melayani tamu walau berbeda akidah. “Waduh, saya nggak enak nih, kalian kan lagi puasa, masak saya makan” ujar sang Boss. Kepadanya saya katakan bahwa agama kami mengajarkan untuk menghormati tamu tanpa pengecualian, tanpa memandang status sosial, agama bahkan prilakunya sekalipun. “Boss nggak wajib puasa, sedangkan kami tuan rumah wajib melayani tamu” jawab saya menjelaskan bahwa tamu non muslim dilayani makan minum karena tidak memiliki kewajiban berpuasa. Puasa dalam agama kami (Islam) tidak mengajarkan kesombongan dan keangkuhan dengan memandang rendah orang-orang yang tidak berpuasa, apalagi sampai menzholimi orang agar menutup warung makan miliknya. “Wah, ternyata seperti itu ya?” tanya Boss David dan ia pun tanpa sungkan menikmati hidangan yang telah kami sediakan, yang tentunya saya ikut menemani di meja makan.

Sambil ngobrol soal keluarga dan kehidupan sosial, sang tamu melahap nikmat makan siang di rumah saya. Setelah beristirahat sejenak, selanjutnya ia saya antarkan ke kediaman (Kepastoran) tokoh Katolik terkemuka, Mgr. Hilarius Moa Nurak dan bertemu dengan para Pastor dan tokoh Katolik dari berbagai daerah di Indonesia yang kebetulan kala itu sedang ada kegiatan.

**** 

BEBERAPA hari yang lalu, saya ikut rapat dengan dihadiri hampir semua peserta rapat adalah non Muslim dan tentunya dalam ruang rapat tertutup tersebut disajikan berbagai makanan dan minuman. “Maaf Bung Ahmadi, kami boleh makan dan minum?”. Tak perlu saya jawab boleh dan tidak, karena apa pun jawaban saya pasti mereka tetap menikmati makanan dan minuman di atas meja yang memang sudah disiapkan. Saya juga tidak butuh dihormati hanya karena merasa diri sedang berpuasa, bahkan puasa atau tidaknya saya, toh mereka juga tidak tahu. Kepada mereka, juga saya katakan bahwa puasa tidak membuat kami menjadi muslim yang sombong dan kaku. Islam adalah agama yang sangat fleksibel dan rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) dan alam adalah sesuatu selain Allah.

Dewasa ini (walaupun nampaknya tetap tidak dewasa juga), kita muslim sering ribut yang terfokus pada egoisme berpuasa, bukan ke arah la’allakum tattaquun. Di seluruh waktu dalam setahun, nampaknya Ramadhan dikambinghitamkan di negeri kita ini yang saling jor-joran di segala lini kehidupan. Kita selalu ribut soal perselisihan penetapan awal dan akhir Ramadhan, perbaikan infrastruktur dan tiket transportasi mudik, kenaikan harga sembako, cabai, daging sapi yang makin gila dan membuat orang gila sampai masuk penjara, dan heboh-heboh lainnya yang dibungkus nafsu keegoisan dengan menutup-nutup tempat hiburan dan rumah makan. Bahkan yang terbaru, memaksakan MBG (Makan Bergizi Gratis) yang tetap dibagikan kepada siswa sekolah di siang hari. Sebuah pemaksaan demi cuan didapatkan sebab ini adalah proyek yang menguntungkan. Begitu analisanya.

Apakah hal tersebut tidak juga “diributkan” (dilakukan/diselesaikan) juga selain bulan Ramadhan? Saya khawatir (jika tidak dikatakan sok khawatir), nanti kehadiran Ramadhan menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian orang. Padahal justru harus sebaliknya, yakni ditunggu dan menyenangkan karena kehadirannya adalah rahmatan lil ‘alamiin. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan