Cumi Bangka (Bagian 1)
Indra Ambalika Syari.-Dok Pribadi-
Oleh : Dr (C). Indra Ambalika Syari, S.Pi, M.Si
Dosen Ilmu Kelautan - Universitas Bangka Belitung
Ketua Yayasan Sayang Babel Kite
PERTAMA kali penulis membaca nama “cumi bangka” sekitar akhir tahun 2011 di sebuah mall besar di Kota Hujan, Bogor Botani Square. Di salah satu lantai sudut mall tersebut, tersaji jajanan berbagai komoditas seafood salah satunya adalah cumi-cumi. Tertulis jelas di dekatnya harga per 100 gram. Persis di sebelahnya tertulis cumi sero. Dengan bentuk, ukuran, dan kesegaran yang relatif sama.
Penulis sudah lupa berapa harga pastinya namun yang membuat berkesan adalah harga cumi Bangka hampir dua kali lipat dari harga cumi Sero. Sebagai putra Bangka dan penikmat cumi-cumi tentu merasa bangga sekaligus jiwa penasaran pun ikut bergejolak. Mengapa harga cumi bangka bisa sangat tinggi? Jadi terbayang di rumah, mamak (ibu.red) biasa memasak cumi-cumi tumis asam. Spesial dipilih cumi-cumi yang segar dan ada telurnya. Hampir dipastikan sepiring nasi tidak akan cukup.
Rasa ingin tahu mengapa pasar memberikan penghargaan lebih tinggi kepada cumi bangka, apakah karena ukurannya yang besar? Teksturnya yang lembut? Atau karena rasanya yang khas? Penulis belum faham. Namun sebagai peneliti di bidang kelautan, rasa ingin tahu lebih tinggi bagaimana kehidupan cumi bangka di alamnya sangat realistis untuk dipelajari. Bukan hanya sekedar menjadi penikmat kulinernya saja.
Sebuah komoditas laut yang berharga hampir menyamai timah. Bedanya, komoditas ini dapat berkembang biak dan dapat dinikmati selamanya jika dikelola dengan benar. Ketertarikan inilah yang kemudian membuat penulis menjadikan cumi bangka sebagai topik penelitian untuk thesis, disertasi dan penelitian-penelitian unggulan.
Dikenal dengan nama dagang “cumi bangka” bisa jadi karena cumi-cumi ini hidup dan ditangkap di perairan Pulau Bangka. Meskipun ternyata cumi-cumi yang ditangkap di perairan Belitung pun sama dengan yang ditangkap di Pulau Bangka. Termasuk di Laut Natuna dan Laut Jawa.