Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Imlek, Ramadhan dan Bangka Belitung

Ahmadi Sopyan-screnshot-

Oleh: AHMADI SOFYAN

Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya

 

FENOMENA perayaan 2 hari besar Imlek dan Ramadhan yang hampir bersamaan ini momentum semakin memperkokoh 2 semboyan kebersamaan masyarakat Bangka Belitung, “Serumpun Sebalai” dan “Fan Ngin Thongin Jitjong”.

--------------

DITAKDIRKAN menjadi warga Indonesia adalah keberkahan tiada tara. Ditemukannya falsafah kebangsaan, Bhinneka Tunggal Ika yang melambangkan kesatuan Nusantara diambil dari Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit (sekitar abad ke-14) adalah modal besar yang mendasar bagi kebersamaan kita dalam balutan kehangatan NKRI. Awal tahun 2026 adalah kebahagiaan yang berharap keberkahan sebab di bulan Februari ini kita warga Indonesia merayakan 2 hari besar yang hampir bersamaan, yakni Imlek dan Ramadhan yang hanya beda sehari. Tahun Baru Imlek 2577 jatuh pada hari Selasa, 17 Februari 2026. Sedangkan Ramadhan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Kedua hari besar nasional ini tentunya memiliki perbedaan dan persamaan, Imlek yang bernuansa seni budaya, sedangkan Ramadhan bernuansa religius. Persamaan keduanya adalah disambut dengan antusias dan penuh kegemberiaan oleh masyarakat Tionghua dan Melayu.

Tentunya antusias menyambut kedua hari besar yang hampir bersamaan ini, menjadi fenomena yang menarik, terlebih bagi masyarakat Bangka Belitung yang notabene memiliki semboyan “Serumpun Sebalai” dan “Fan Ngin Thongin Jitjong”. Dua semboyan kebersamaan Melayu dan Tionghua Bangka Belitung ini menjadi semakin memperkokoh kebersamaan dalam menyambut kehadiran Imlek dan Ramadhan 2026 yang hampir bersamaan.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang berusia 25 tahun ini merupakan Provinsi bersama, rumah kita bersama dalam satu rumpun, membaur ceria dalam mahligai kebersamaan, mengikat visi dan misi dalam balai perjuangan memisahkan diri dari Sumatera Selatan untuk mandiri menjadi Provinsi sendiri. Puluhan tahun silam, para tokoh Melayu dan Tionghua Bangka Belitung secara bersama-sama saling asah, asih asuh, saling sokong menyokong, baik tenaga maupun dana guna mencapai keinginan yang sama, yaitu Bangka Belitung menjadi Provinsi. Tokoh Melayu maju terdepan, tampil melobi secara senyap, ada bagian tukang teriak memberi semangat, sedangkan tokoh-tokoh Tionghua terutama para Tauke, menyumbangkan dana agar operasi berjalan lancar. Logistik dipersiapkan agar logika perjuangan menjadi terbukti dan akhirnya memang terbukti. Kita generasi hari ini, adalah penikmat perjuangan para pendahulu itu. Maka tak pantas kenikmatan hasil perjuangan tersebut kita kotori dengan dishormanisasi intoleransi dan radikalisasi. 

Jika kita menilisik sejarah mengenai Tionghua di Bangka Belitung, sama-sama kita ketahui bahwa Tionghua di Bangka Belitung adalah peranakan, yaitu darah campuran Tionghua dan pribumi (Melayu). Perbedaan besar dengan Tionghua lainnya, di Bangka Belitung masyarakat Tionghua berbahasa Melayu Bangka yang khas bercampur dengan dialek Hakka. Selain itu, dari sisi kuliner pun demikian. Hampir semua jenis kuliner di Bangka Belitung perpaduan antara kuliner Tionghua dan Melayu. Inilah salah satu jawaban mengapa Bangka Belitung kaya akan rasa dan rupa dalam dunia kulinernya.

Pun demikian, jalur wisata sejarah dan budaya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini tidak jauh dari pengaruh kedua etnis besar ini. Banyak peninggalan sebagai bukti sejarah yang masih terawat dengan baik serta tradisi-tradisi yang masih diselenggarakan dan dilestarikan oleh masyarakat kita. Dengan keharmonisan kehidupan masyarakat disini, bisa hidup berdampingan, kerjasama dalam berbagai urusan, bahkan soal pembangunan tempat ibadah sekalipun, Melayu dan Tionghua Bangka terbiasa dengan kerjasama. 

Imlek misalnya, tidak hanya sekedar perayaan tahun baru buat masyarakat Tionghua, tapi juga adalah kegembiraan bagi masyarakat Melayu dengan cara mendatangi (bertamu) ke rumah-rumah warga Tionghua. Perayaan Imlek sangatlah ramai, sebab Melayu yang datang membawa sanak famili, terutama anak-anak, sebab ada angpao yang diharapkan. Soal kuliner saat Imlek, di Bangka Belitung tidak usah khawatir, sebab insya Allah yang disajikan oleh warga Tionghua adalah makanan halal. Biasanya dipesan catering dari masyarakat Melayu untuk disiapkan di kediaman mereka guna melayani tamu-tamu dari warga Melayu.

Pun demikian ketika masyarakat Melayu merayakan Idul Fitri, Maulid Nabi, Muharram (Tahun Baru Islam), bukan hal yang aneh kalau yang datang bertamu adalah warga Tionghua dengan fasih mengucapkan “Selamat Maulid Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wassalam ya....” begitulah yang sering saya dengar ketika mereka datang saat saya merayakan Maulid Nabi. Ketika umat Melayu merayakan Idul Adha, tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa banyak masyarakat Tionghua yang menyumbangkan hewan Qur’ban untuk disembelih dan dinikmati warga Melayu. Bahkan di Perumahan Graha Puri Pangkalpinang dimana saya tinggal, tetangga kita yang Tionghua turut menjadi Panitia Qur’ban guna membagikan daging qurban ke rumah-rumah. 

Ramadhan seperti yang akan kita temui beberapa hari lagi, bukan hal yang asing nanti sepanjang jalan banyak masyarakat Tionghua berjualan takjil untuk masyarakat berbuka puasa. Selanjutnya menjelang perayaan Idul Fitri, masyarakat Tionghua paling sibuk menata jajanan atau kue lebaran untuk didagangkan di toko-toko mereka. Tidak sampai disitu, ternyata beberapa kali saya saksikan, mereka juga menyiapkan toples berisikan kue lebaran di meja ruang tamu rumah mereka ketika masyarakat Melayu merayakan Idul Fitri. “Kami juga lebaran Idul Fitri woo.....” begitu ujar mereka yang kerapkali saya dengarkan ketika saya mampir ke rumah sahabat-sahabat Tionghua di Pangkalpinang. 

Belum cukup bukti kerukunan, keharmonisan dalam keragaman Melayau Tionghua di Bangka Belitung? Masjid Jami’ di Kota Mentok Bangka Barat misalnya, dibangsun sejak 19 Muharram 1298 H (1880 M) dan selesai pada 19 Muharram 1300 H (1882 M) berdiri tepat diamping Kelenteng Kung Guk Miau. Kedua ini menjadi simbol toleransi dan harmonisasi kehidupan sosial masyarakat Melayu Tionghua. Halaman parkir kedua tempat ibadah ini menyatu dan bisa digunakan kedua umat beragama tanpa pernah ada pergesekan sekecil apapun sejak dulu hingga kini. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan