Metode Pembelajaran STEAM dalam Proses Pembelajaran
Rudiyanto.-Dok Pribadi-
Oleh Rudiyanto, S.Pd.,Gr
Guru Pendidikan Agama Islam SD Negeri 9 Airgegas, Bangka Selatan
TUJUAN akhir dari sebuah proses pembelajaran adalah bagaimana agar tiap-tiap peserta didik dapat memahami materi pembelajaran serta dapat mengimplementasikan dan mengamalkan ilmunya dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, tugas seorang pendidik sejatinya adalah bukan hanya sekedar mentransfer materi pembelajaran akan tetapi juga bertanggung jawab agar bagaimana materi yang disampaikannya dapat dipahami dan di praktikkan oleh tiap-tiap peserta didiknya.
Menurut penulis, sebagian besar pendidik di Indonesia cenderung hanya mengandalkan seberapa jauh hafalan para peserta didik sebagai tolak ukur keberhasilan materi pembelajaran yang telah disampaikannya.
Dampak buruknya adalah peserta didik hanya mengetahui sebatas teori saja dan akan mengalami kesulitan dalam mempraktikkan dan mengamalkan ilmu yang didapatnya ke dalam kehidupan nyatanya. Padahal aspek keterampilan (psikomotorik) atau praktik secara nyata oleh peserta didik adalah hal yang paling utama yang menunjukkan kompetensi atau kemampuan sesungguhnya.
Peserta didik yang memiliki pengetahuan (kognitif) belum tentu memiliki keterampilan (psikomotorik) yang memadai. Sedangkan peserta didik yang memiliki keterampilan (psikomotorik) yang baik, pasti memiliki pengetahuan(kognitif) yang memadai pula.
Berdasarkan ilustrasi latar belakang tersebut, maka diperlukan metode pembelajaran yang sesuai agar dapat melahirkan para peserta didik yang memiliki keterampilan (psikomotorik) dan pengetahuan (kognitif) yang memadai. Salah satu metode tersebut adalah metode pembelajaran berbasis STEAM.