Tinggal Ilalang
Kristia Ningsih.-screenshot-
Momen pulang sekolah lebih menyenangkan lagi. Kalau sedang musim buah-buahan, kami seolah punya keterampilan memanjat pohon jambu air dan jambu biji. Buah-buahan juga mengingatkan kami akan kemampuan berdagang. Ada teman kami yang kreatif menjual jambu air dengan lidi kelapa muda.
Ditusuknya sekitar tujuh jambu air yang sangat cantik, merah muda, segar, dan besar. Saya sendiri pernah berjualan pisang goreng sambil jalan kaki berkeliling kampung dengan membawa tampah (anyaman bundar besar tempat pajangan dagangan ditutup kain) di kepala. Tampaknya, bagi anak-anak saat itu, berdagang tak jadi sebab timbul rasa malu.
Pulang sekolah artinya lepas seragam, langsung mencari rumah teman tempat kami bermain. Caklingking misalnya, dimainkan dengan satu kaki untuk mendorong batu kecil dalam garis di atas tanah. Ada pula yeye, permainan lompat tali dari karet.
Kejer-kejer aek yang artinya permainan diburu lari oleh buaya. Kalau kena sentuh, dialah yang jadi petugas. Tempat menyelamatkan diri adalah tempat yang permukaannya lebih tinggi dari permukaan tanah. Misalnya kursi teras, atau pohon. Tanpa disadari, permainan-permainan yang mengajarkan kami kekompakan, ketangkasan, sekaligus hiburan itu mulai kehilangan jejaknya.
Setelah lelah bermain, kami melanjutkan lagi sesi sore. Itulah saatnya berenang ke kolong, bekas tambang timah konvensional. Sepanjang yang saya dengar, tak ada satu pun cerita anak yang tewas tenggelam di kampung kami. Meski tak semua jago berenang, anak-anak era dahulu bergerak cepat untuk menyelamatkan siapa saja yang tekelemes atau lemas saat mulai tenggelam. Saya sendiri adalah salah satu yang diselamatkan teman saat berenang ramai-ramai. Rasa aman dan bersyukur itu masih hidup hingga kini.
Semua itu kini hanya tinggal cerita. Buktinya, yang berdiri tegak sampai sekarang hanyalah SDN 17. Itu pun tanpa halaman kemunting lagi. Wajah kampung kami mulai berubah. Rumah mendiang Bik As yang di belakangnya ada pohon cempedak, kini tak berbekas.
Di sebelahnya, rumah Bik Malut pun telah menjadi bengkel. Dua rumah itu bukan lagi dihuni penduduk lama. Demikian juga dengan bekas kolong Akek Kising yang kini telah digusur dan ditimbun menjadi tanah. Tanah itu kini menjadi rumah pengusaha sawit. Hubungan sosial pun tak lagi sama seperti selagi bersama orang yang saya kenal sebelumnya.