MBG-nya Guru
Syamsul Bahri.-Dok Pribadi-
Lebih lanjut ia menjabarkan bahwa guru sebagai pendidik harus terlebih dahulu menunjukkan perilaku yang berkarakter dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah, keluarga, maupun dalam masyarakat. Akan menjadi sia-sia apabila guru melarang pendidikan karakter kepada anak didik, namun perilaku berkarakter belum menjadi bagian dari hidup seorang guru.
Guru juga harus memiliki rasa tanggung jawab. Tentu tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang guru harus dimaknai secara holistik, yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah, lingkungan, agama, dan juga negaranya. Lebih khusus lagi tanggung jawab kepada anak didik sebagai konsumen yang menerima jasa jasa dari seorang guru. Oleh karena itu merupakan kesalahan besar jika tanggung jawab seorang guru hanya sekedar “asal memenuhi tugasâ€.
Kemudian adanya tuntutan zaman membuat guru saat ini harus bertransformasi menjadi insan pembelajar yang proaktif. Dan hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan inovasi. Inovasi yang dimaksud disini bukan berarti guru harus menciptakan/menghasilkan produk baru dalam pembelajaran, akan tetapi dapat mengimplementasikan hal-hal baru yang menurut guru sangat cocok dan relevan dengan konten yang sedang dipelajari oleh anak didik sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya.
3. Gezag (Kewibawaan)
Di dalam Tim Prima Pera, gezag berasal dari kata zeggen yang berarti “berkataâ€. Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap orang itu.
Seorang guru harus mempunyai sifat gezag atau kewibawaan, baik di lingkungan tempat dia mengajar ataupun di lingkungan masyarakat.
Kewibawaan guru hanya dimiliki oleh mereka yang dewasa. Yang dimaksud dengan kedewasaan disini adalah kedewasaan pikiran. Kedewasaan pikiran hanya akan tercapai oleh individu yang telah melakukan proses atau dialektika dengan realitas sosial yang pernah dilaluinya. Kewibawaan seorang guru akan membuat ia disegani oleh siswanya. Dengan kewibawaan itu seorang guru akan mampu mengatasi berbagai permasalahan siswanya.
Menurut Munadi S. Ali, ada tiga sendi kewibawaan, yaitu pertama kepercayaan diri, maksudnya guru harus percaya bahwa dirinya bisa mendidik dan juga harus percaya bahwa siswa dapat mengembangkan dirinya sehingga dalam proses pembelajaran guru berfungsi sebagai pembangkit potensi siswa.
Kedua, kasih sayang yang mengandung makna, yaitu penyerahan diri kepada yang disayangi/siswa dan melakukan proses pembebasan terhadap yang disayangi dalam batasan-batasan yang tidak merugikan siswa dan kesediaan untuk berkorban dalam bentuk konkretnya berupa pengabdian dalam kerja.