Krisis Empati di Tengah Ledakan Informasi Digital
Indah Puspita Sari.-Dok Pribadi-
Di satu sisi, hal ini menunjukkan adanya kesadaran sosial. Namun di sisi lain, ia menciptakan ilusi kepedulian—seolah telah berkontribusi, padahal tidak ada tindakan konkret yang dilakukan. Kepedulian pun berubah menjadi performa, bukan komitmen.
Lebih jauh lagi, sistem algoritma media sosial turut memperkuat pola tersebut. Konten yang memicu emosi, termasuk penderitaan, lebih mudah viral dan mendapatkan perhatian luas. Dalam logika ini, nilai suatu isu tidak lagi ditentukan oleh urgensinya, melainkan oleh daya tariknya di ruang digital. Akibatnya, perhatian publik menjadi tidak stabil, isu yang hari ini dianggap penting dapat dengan cepat tergantikan oleh isu lain keesokan harinya.
Sebagian pihak berpendapat bahwa melimpahnya informasi justru memperkuat empati sosial, karena masyarakat menjadi lebih sadar terhadap berbagai persoalan kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Tidak dapat dimungkiri, banyak gerakan sosial dan aksi kemanusiaan memang lahir dari viralnya suatu isu. Namun, persoalan utamanya terletak pada keberlanjutan. Kepedulian yang muncul sering kali bersifat sesaat bahkan cepat hadir, tetapi juga cepat menghilang.
Di sinilah letak krisis yang sebenarnya. Masalahnya bukan pada kurangnya informasi, melainkan pada cara kita meresponsnya. Kita mungkin mengetahui lebih banyak daripada sebelumnya, tetapi belum tentu merasakan lebih dalam. Jika kondisi ini terus berlanjut, masyarakat berisiko menjadi terbiasa melihat penderitaan tanpa benar-benar tergerak untuk peduli.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar akses informasi, melainkan kesadaran dalam mengelolanya. Literasi digital tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan mencari dan menyebarkan informasi, tetapi juga kemampuan untuk memilah, memahami, dan memberi ruang bagi refleksi. Di tengah arus yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi kunci menjaga kepekaan.
Lebih dari itu, kepedulian perlu didorong keluar dari ruang digital menuju tindakan nyata. Empati tidak boleh berhenti pada layar, tetapi harus hadir dalam kehidupan sosial sehari-hari. Jika tidak, kita bukan hanya akan kehilangan empati, tetapi juga perlahan kehilangan makna kemanusiaan itu sendiri di tengah kemajuan teknologi.**