Mengendalikan Inflasi dari Meja Makan
James Okto Irwan.-Dok Pribadi-
Kemudian, kontribusi apa yang dapat kita lakukan? Hal mendasar yang perlu dipahami adalah menjaga stabilitas inflasi bukan hanya menjadi tugas negara. Masyarakat turut memiliki peran penting dan justru menjadi kunci keberhasilan dalam pengendalian inflasi, khususnya yang bersumber dari bahan pangan. Karena itu, hal yang dapat dilakukan yaitu Pertama, jangan berbelanja secara berlebihan, lakukan perencanaan belanja yang rasional yakni sesuai kebutuhan bukan keinginan.
Masyarakat jangan takut tidak kebagian bahan pokok yang justru mendorong tindakan impulsif panic buying sehingga justru mengakibatkan penimbunan barang. Belanjalah secara rasional, sehingga dapat turut menjaga pasar tetap tenang dan permintaan yang lebih stabil.
Kedua, diversifikasi pangan, masyarakat sebaiknya tidak bergantung pada satu jenis komoditas pangan tertentu. Di Bangka Belitung, karakteristik masyarakatnya lebih menyukai untuk mengonsumsi ikan laut. Ketika stok komoditas ini berkurang di pasar, maka akan mengakibatkan terjadinya kenaikan harga.
Oleh karena itu, untuk meredam kenaikan harga yang lebih tinggi, masyarakat bisa melakukan substitusi ikan laut dengan ikan air tawar yang lebih murah. Selanjutnya, jika harga cabai merah segar lagi naik, maka masyarakat dapat mengonsumsi cabai olahan atau cabai kering.
Ketiga, memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk menanam tanaman hortikultura. Masyarakat dapat menanam cabai merah menggunakan polybag dan menempatkannya di pekarangan rumah. Satu polybag cabai merah umumnya dapat menghasilkan 250 gram hingga 1 kg lebih selama masa panen, cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Gerakan ini akan efektif dalam menahan laju inflasi pangan jika dilakukan secara masif dan berkelanjutan.
Keempat, berkonsumsi dengan bijak sehingga tidak membuang-buang makanan. Kerap kali ketika kita melihat makanan tertentu rasanya ingin membeli semua makanan tersebut. Hal ini sering kali dikenal di masyarakat sebagai sebuah konsep lapar mata yang mana belum tentu makanan tersebut dapat dihabiskan seluruhnya.
Oleh karena itu, perlu dipahami sebuah konsep ambil secukupnya dan habiskan sepenuhnya agar tidak membuang-buang makanan yang justru menjadi sampah baru. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup bahwa sampah sisa makanan menyumbang sebesar 40,76% dari total sampah yang ada. Hal ini perlu diantisipasi agar tidak menambah jumlah sampah sisa makanan. (Lihat grafik 2. Komposisi Sampah Berdasarkan Jenis Sampah di Indonesia)
Pada akhirnya inflasi menjadi bagian penting yang tetap harus dijaga kestabilannya, bukan untuk diwujudkan serendah-rendahnya. Inflasi yang rendah dan stabil sangat dibutuhkan sebagai bahan bakar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan hal tersebut, beban dan tanggung jawab tidak hanya menjadi tugas negara. Masyarakat juga memiliki peran penting, dan salah satu yang dapat dilakukan yakni dengan menjaga inflasi dari meja makan.**