Konsep Sekolah Rakyat yang Humanis
Sunhaji.-Dok Pribadi-
Oleh karena itu, agar visi besar Sekolah Rakyat benar-benar dapat terwujud, perhatian serius perlu diberikan pada berbagai aspek penyelenggaraan dan pengembangannya. Aspek kelembagaan, kurikulum, kualitas pendidik, serta dukungan sarana prasarana harus dirancang secara berkelanjutan dan kontekstual. Selain itu, pendekatan pembelajaran yang humanis dan inklusif perlu dijaga agar tetap sejalan dengan semangat awal pendirian Sekolah Rakyat.
Capaian awal yang telah ditunjukkan harus dipandang sebagai fondasi, bukan tujuan akhir. Penguatan sistem evaluasi dan pendampingan menjadi langkah penting untuk memastikan program terus berkembang. Dengan demikian, Sekolah Rakyat berpotensi tumbuh menjadi model pendidikan alternatif yang berkelanjutan. Model ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional sekaligus mendukung agenda pengentasan kemiskinan secara menyeluruh.
//Pendidikan yang Humanis
Konsep humanis dalam Sekolah Rakyat berangkat dari pandangan bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia. Pendidikan tidak sekadar memindahkan pengetahuan dari guru ke peserta didik. Pendidikan perlu menghargai pengalaman hidup setiap anak.
Setiap peserta didik datang dengan latar sosial dan budaya yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan hambatan, melainkan sumber pembelajaran. Sekolah Rakyat yang humanis menjadikan perbedaan sebagai kekuatan. Pendekatan ini sejalan dengan cita-cita keadilan sosial dalam pendidikan.
Sekolah Rakyat yang humanis menempatkan peserta didik sebagai subjek pendidikan. Proses belajar tidak bersifat satu arah. Dialog menjadi metode utama dalam pembelajaran. Guru tidak berdiri sebagai penguasa kelas. Guru hadir sebagai pendamping dan fasilitator. Peserta didik didorong untuk berani bertanya dan berpendapat. Suasana belajar dibangun agar aman dan nyaman.
Pendidikan yang humanis membentuk insan manusia yang memiliki komitmen humanniter sejati, yaitu insan manusia yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggungjawab sebagai insan manusia individual, namun tidak terangkat dari kebenaran faktualnya bahwa dirinya terangkat dari kebenaran faktualnya bahwa dirinya hidup di tengah masyarakat (Baharudin, 2011).
Pendekatan humanis juga terlihat dalam cara Sekolah Rakyat memahami realitas kehidupan peserta didik. Banyak peserta didik berasal dari keluarga dengan tekanan ekonomi tinggi. Kondisi tersebut memengaruhi cara belajar dan berpikir. Sekolah tidak boleh menutup mata terhadap realitas ini. Pembelajaran perlu disesuaikan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dikaitkan dengan pengalaman nyata. Dengan demikian, pembelajaran terasa dekat dan bermakna.