Menakar Keefektifan Budaya Kerja BerAKHLAK: Birokrasi yang Bertransformasi
Dwi Okta Wijaya.-screenshot-
Oleh: Dwi Okta Wijaya
Mahasiswa Pasca Sarjana Administrasi Publik Institut Pahlawan 12
Saat ini transformasi birokrasi di Indonesia tidak lagi semata pada sisi administrasi, namun juga menyentuh sisi budaya kerja. Birokrasi yang sering menempatkan posisi aparatur negara sebagai pihak yang harus dilayani oleh masyarakat, justru sekarang harus dalam posisi melayani masyarakat. Melayani ini bukan sekedar sebuah perilaku dengan kesopanan, namun sebuah dasar paling penting dalam proses pelayanan publik. Jika dulu masyarakat itu harus menyesuaikan dengan birokrasi yang begitu rumit dan kaku, maka sekarang birokrasilah yang harus menyesuaikan sistemnya dengan kebutuhan masyarakat yang dilayaninya.
Pada tahun 2021, pemerintah telah meresmikan kebijakan terkait nilai budaya kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yaitu Core Values ASN BerAKHLAK yang merupakan akronim dari Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Ini menjadi salah satu solusi dalam menghadapi tantangan nilai budaya kerja yang sering dialami oleh berbagai instansi atau pemerintah pusat dan daerah.
Tentunya menjadi penggerak keseragaman birokrasi dalam memberikan pelayanan publik yang prima dan mampu menghadapi tantangan global saat ini. Namun apakah nilai-nilai ini mampu memberikan hasil nyata dari proses transformasi birokrasi di negara ini?
Sebelumnya, hampir setiap instansi pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah, memiliki budaya kerja sendiri, dengan semua akronim atau moto pelayanan yang berbeda-beda, menyesuaikan dengan kondisi dan nilai yang dipedomani oleh masing-masing instansi. Tentunya perbedaan budaya kerja ini menyulitkan kolaborasi yang melibatkan lintas instansi pemerintah, dan bahkan berpengaruh pada pribadi pegawai.
Mereka harus beradaptasi ulang dengan budaya kerja yang bisa jadi berbeda jika mereka mengalami mutasi atau promosi. Dengan adanya kebijakan BerAKHLAK ini, diharapkan dapat menjadi instrumen yang menyatukan dan menyeragamkan budaya kerja birokrasi yang berlaku di Indonesia. Selain itu, perbedaan budaya kerja dalam birokrasi ini dapat diartikan sepihak sebagai suatu sistem loyalitas pada instansi sendiri, bukan untuk bangsa dan negara.
Nilai dasar BerAKHLAK sejatinya harus diimplementasikan dalam perilaku kerja sehari-hari dalam melayani masyarakat. Jadi tidak sekedar jargon atau tulisan yang harus dihapal oleh setiap ASN. Tujuan besarnya adalah mewujudkan Birokrasi Berkelas Dunia. Cepatnya perubahan teknologi dan digitalisasi akan menjadi timpang jika tidak dibarengi dengan perubahan perilaku manusianya, dalam hal ini aparatur.