Penetapan Target Kinerja dan Implikasinya Terhadap Organisasi: Penerapan Goal Setting Theory dari Locke
Dwi Okta Wijaya.-Dok Pribadi-
Oleh: Dwi Okta Wijaya
Mahasiswa Pasca Sarjana Administrasi Publik Institut Pahlawan 12
Dalam manajemen sektor publik, penetapan target kinerja sering dianggap sebagai perangkat yang menjadi kemudi sebuah organisasi dalam mewujudkan efektifitas kinerja. Sasaran atau penetapan ini selayaknya harus direncanakan dan dilaksanakan dengan baik dan jelas. Tanpa itu, sebuah organisasi akan mengalami masalah sistemik. Penetapan target kinerja bukan sekedar proses administratif, namun sebuah proses yang dapat memberikan gambaran kerja dan perilaku organisasi.
Diskoneksi antara penetapan tujuan dengan kondisi yang terjadi di lapangan, dapat mengakibatkan terjadinya kegagalan kinerja. Hal ini sering terjadi dalam suatu organisasi, saat target capaian tidak tercapai dikarenakan berbagai hal seperti target yang tidak jelas dan tidak realistis, perencanaan yang tidak matang, kurangnya koordinasi antar bidang atau instansi, lemahnya peran pimpinan, perubahan metode pencapaian target, demotivasinya pelaksana, atau hal lainnya yang tidak diikuti dengan penyesuaian yang signifikan.
Angka-angka yang bermunculan dalam target bukan sekedar deretan jumlah atau statistik, namun sebuah nilai yang akan menggambarkan proses praktik manajemen kinerja yang seharusnya berpegang pada prinsip dasar manajemen dan pelayanan publik. Melalui Goal Setting Theory dari Edwin Locke, penetapan sasaran atau target sebuah organisasi harusnya dapat mencerminkan optimisme dan kinerja yang diharapkan dari suatu organisasi.
Menurut Locke, aspek kejelasan (clarity) dan tantangan (challenge) yang realistis, adalah dua aspek utama agar tujuan organisasi dapat memotivasi individu dan organisasi. Saat instrumen dan metode pencapaian berubah, maka sepatutnya target pun harus berubah. Ada revisi yang harus dilakukan dan ada kebijakan yang harus segera diambil. Target yang dibuat di awal tahun tidak harus selalu sama sampai akhir tahun. Ketidakkonsistenan antara parameter input dengan target output dapat menciptakan tujuan yang terasa mustahil, yang menurut Locke dapat menurunkan motivasi kerja para pelaksana. Jangan sampai terjadi jarak yang lebar antara ekspektasi dengan realitas di lapangan.
Locke juga menekankan pentingnya umpan balik (feedback) dan komitmen terhadap tujuan (goal commitment). Tanpa evaluasi rutin dan berkala, organisasi tidak dapat mengetahui apakah mereka sudah bekerja dengan benar, alih-alih sekedar bekerja dengan memunculkan capaian tanpa melihat target yang harus dicapai. Fungsi koordinasi dan pemantauan ini harus selalu dilakukan.