Financial Well-Being Generasi Sandwich di Pangkalpinang, Peran Literasi, Perilaku, Teknologi, dan Fragilitas K
Ilustrasi--
Oleh: Zsa Zsa Fatimah Az Zahra, Indah Saputri Yani, dan Nur Zakiyah Azzahra
Mahasiswa Akuntansi, Universitas Bangka Belitung
Generasi Sandwich di Tengah Gempuran Krisis Finansial
Perkembangan ekonomi global yang kurang merata akibat inflasi, serta dampak berkelanjutan dari pandemi COVID-19 semakin memperburuk tekanan finansial yang dialami oleh berbagai lapisan masyarakat (Madyoningrum & SE, 2025). Di Indonesia, tekanan ini diperparah oleh perubahan struktur keluarga, meningkatnya biaya hidup, serta ketimpangan pendapatan, yang mendorong munculnya beban finansial baru di kalangan usia kerja, khususnya di kota-kota berkembang seperti Pangkalpinang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Pangkalpinang (2024) sekitar 32,2% penduduk Pangkalpinang tergolong usia non-produktif, sementara itu hanya 67,79% yang masuk dalam kategori usia produktif. Ketimpangan ini menghasilkan tekanan ekonomi yang besar pada kelompok usia produktif yang secara finansial bertanggung jawab atas orang tua, anak-anak atau saudara mereka secara bersamaan dan memunculkan fenomena generasi sandwich (Khalil & Santoso, 2022).
Generasi sandwich adalah individu usia produktif yang harus menanggung beban finansial orang tua dan anak-anak mereka secara bersamaan (Khalil & Santoso, 2022). Dalam konteks generasi sandwich, beban ganda tidak hanya muncul dari kewajiban keluarga dan karier, tetapi juga dari dukungan finansial yang dibutuhkan oleh generasi naik (orang tua) dan generasi turun (anak).
Teori beban ganda (Double Burden Theory) menjelaskan bahwa tekanan finansial pada generasi ini lebih tinggi dibandingkan generasi lain, sehingga mereka rentan mengalami fragilitas keuangan dan penurunan kesejahteraan finansial. Edukasi keuangan yang efektif dapat membantu generasi sandwich mengelola keuangan mereka dengan lebih baik dan meningkatkan ketahanan finansial mereka dalam menghadapi guncangan ekonomi (Khasanah et al., 2023).
Financial well being merupakan sebuah kondisi dimana seseorang mampu untuk mengelola kebutuhan ekonominya saat ini, mengantisipasi risiko keuangan di masa depan, dan merasa aman secara finansial dalam jangka panjang (Prista, 2025). Financial well being tidak hanya mencerminkan keadaan ekonomi objektif seperti pendapatan dan tabungan, tetapi juga mencakup aspek subjektif seperti rasa kendali dan kecemasan finansial (SURIATI, 2024).