Melawan Dutch Disease: Strategi Mengembangkan Ekonomi Non-Timah di Bangka Belitung
Dicky Wahyudi.-Dok Pribadi-
Oleh Dicky Wahyudi
Mahasiswa Universitas Pertiba
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sering kali membanggakan capaian realisasi investasi yang tampak mengesankan. Data terbaru Capaian Realisasi investasi tahun 2024 mencapai Rp 17,26 triliun, melebihi target awal yang sudah disesuaikan sebesar Rp 3 triliun dan menciptakan ribuan lapangan kerja baru (7.595 orang) .
Beberapa sektor investasi yang tercatat yaitu sektor Pertambangan (Rp 6,7995 triliun) yang masih mendominasi, lalu diikuti dengan sektor lainnya seperti Listrik, gas, dan air (Rp 3,6039 triliun), Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin (Rp 2,0615 triliun), Industri Makanan (Rp 1,0804 triliun), Perdagangan dan Reparasi (Rp 0,7006 triliun).
Dari data tersebut menunjukkan bahwa realisasi investasi secara nominal mampu mencapai puluhan triliun rupiah, bahkan melebihi target yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi. Namun, dari angka yang fantastis tersebut jika dicermati perekonomian Babel sedang terperangkap dalam gejala Dutch Disease (Penyakit Belanda), di mana dominasi sektor Sumber Daya Alam (SDA) tunggal dalam hal ini timah telah melemahkan daya saing sektor-sektor non-komoditas dan menahan laju investasi di luar pertambangan yang menyebabkan Fluktuasi ekonomi di Bangka Belitung.
Ketergantungan Timah dan Volatilitas Ekonomi di Bangka Belitung menegaskan sebuah siklus yang mengkhawatirkan naik turunnya harga timah adalah barometer utama daya beli masyarakat. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung Dr. Devi Valeriani, S.E., M.Si., menyatakan bahwa "Pertumbuhan ekonomi Babel hampir 80 persen masih didorong oleh konsumsi.
Masyarakat yang bekerja secara langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas penambangan timah, pasti akan terdampak secara ekonomi". Timah dalam hal ini adalah kunci penting dalam menentukan fluktuasi pertumbuhan ekonomi daerah. Sentimen negatif pada harga timah langsung memberikan dampak pada arus pendapatan masyarakat, Ketika harga timah anjlok, daya beli masyarakat menurun drastis.
///Realitas Iklim investasi di Bangka Belitung