Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Membingkai Pendidikan: Akselerasi Digitalisasi dan Ketangguhan Karakter

Andy Muhtadin.-Dok Pribadi-

//Bayang-Bayang Krisis Karakter

Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar pemindahan pengetahuan, melainkan juga pembentukan watak. Sayangnya, kemajuan teknologi tidak serta-merta beriringan dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Kita perhatikan saat ini masih ada fenomena perundungan di dunia maya, hoaks yang masih merajalela, ujaran-ujaran kebencian, hingga menurunnya empati sosial menjadi alarm keras yang tak boleh kita diabaikan begitu saja.

 

Merujuk hasil laporan Digital Civility Index yang dipublikasikan melalui Microsoft pada tahun 2023 yang lalu, negara kita ini menempati urutan ke 29 dari 32 negara dalam persoalan etika ketika berselancar di internet. Data menyebutkan tingginya risiko perundungan digital, pelecehan daring dan ujaran kebencian menjadi sorotan serius. Kemudian ada pula Survei Literasi Digital Nasional 2023 yang dilakukan oleh Kominfo dan Katadata juga mencatatkan indeks literasi digital Indonesia sudah mencapai skor 3,54 dari 5. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun akses teknologi meningkat, kemampuan etis dan kritis dalam penggunaannya masih lebih rendah.

 

Apakah ini pertanda bahwa kita sedang mengalami krisis karakter di tengah euforia digital?. Maka, pendidikan karakter bukan lagi hanya slogan belaka, tetapi sangat mendesak untuk di perkuat di setiap lini pendidikan kita.

 

Ki Hadjar telah jauh hari menanamkan pemahaman bahwa pendidikan adalah proses menuntun seluruh potensi kodrati anak agar kelak mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan tertinggi. Pendidikan, karenanya, bukan hanya tentang kecakapan teknis, tetapi lebih dalam lagi: pembentukan budi pekerti.

 

Semangat "Merdeka Belajar" yang digelorakan hari ini pun akan kehilangan makna jika tidak menempatkan karakter sebagai fondasi utama. Prof. Dr. Armai Arief, pakar pendidikan karakter, menegaskan bahwa karakter tidak bisa hanya diajarkan lewat teori. Ia tumbuh lewat keteladanan, pengalaman nyata, dan lingkungan yang menumbuhkan nilai.

 

Program Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu langkah strategis yang sempat menjawab tantangan ini. Enam dimensi utama profil pelajar Pancasila seperti beriman, bertakwa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis serta kreatif. Lalu sekarang diperkuat lewat tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Semoga nilai-nilai ini tak hanya menjadi slogan, tapi benar-benar hidup dalam praktik pendidikan kita.

 

//Menjembatani Jurang Digital dan Moral

Tantangan pendidikan saat ini bukan sekadar mengajarkan "how to code", tetapi juga "how to care". Kita seharunya mencetak insan cerdas secara intelektual, juga generasi bijak secara moral dan sosial. langkah yang perlu kita lakukan antara lain:

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan