Siung Buaya
Ilustrasi-screenshot-
Hari sudah menunjukkan pukul lima sore, tetapi sang tetua desa belum juga muncul. Warga yang sedari tadi menunggu tampak sudah tidak sabar. Bahkan ada sebagian yang memutuskan untuk pulang karena ada keperluan. Tidak seperti biasanya tetua desa terlambat seperti itu. Biasanya beliau selalu datang tepat waktu.
“Sepertinya tetua desa mengalami kesulitan untuk kasus yang satu ini,” bisik Kepala Desa.
Namun, belum sempat jajarannya merespons pernyataan sang Kepala Desa. Tiba-tiba dari kejauhan tampak sang tetua desa berjalan menuju lokasi ritual. Dengan pakaian seluruhnya berwarna hitam dan ikat kepala juga berwarna hitam, tetua desa memasuki kerumunan warga.
Sambil mengusap janggutnya yang sudah memutih, ia memperhatikan satu persatu warga yang hadir termasuk juga kepala desa dan jajarannya.
“Bawa ke sini ayamnya,” perintah tetua desa kepada kepala desa dan jajarannya.
Kepala desa memerintahkan jajarannya untuk membawa ayam jago hitam dan perlengkapan lainnya ke depan tetua desa.
Sang tetua desa kemudian mengeluarkan sebilah pisau kecil dari pinggangnya, kemudian menghunusnya dan memutar-mutarnya sebentar, seolah ingin memperlihatkan kepada warga bahwa pisau yang dipegangnya mempunyai kesaktian. Dan dalam hitungan detik ayam jago hitam itu dipenggal lehernya oleh sang tetua
desa.