Mereka Lebih Membutuhkan
Mereka Lebih Membutuhkan.-screenshot-
Cerpen Syabaharza
SUARA takbir menggema memecah keheningan malam. Lantunan kalimat suci yang khas itu terus menggema di telinga penduduk yang sedang sibuk menyambut hari esok. Suara takbir yang keluar dari corong musala itu menambah syahdu malam suci yang selalu dinanti umat Islam seluruh dunia.
Irama yang dilantunkan sungguh sangat merdu dan membuat orang yang mendengarnya akan mengeluarkan air mata. Entah itu air mata bahagia atau air mata duka. Bagi anggota keluarganya masih sempurna, lantunan kalimat takbir itu akan membawa kebahagiaan tersendiri, namun bagi yang telah ditinggalkan salah satu anggota keluarganya, lantunan kalimat sakral itu akan membawa kesedihan yang mendalam.
Di malam sepuluh Zulhijah itu, seperti biasa musala kampung tersebut akan sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut hari yang mulia. Hari raya yang kedua bagi umat Islam itu selalu diperlakukan istimewa oleh pengurus musala. Persiapan yang dilakukan pun beraneka ragam.
Mulai dari persiapan untuk salat Iduladha sampai persiapan penyembelihan hewan kurban. Yang paling sibuk ketika momen itu tiba adalah seorang marbut musala yang sudah tua. Ia selalu dibantu oleh anak laki-laki semata wayangnya. Ketika sang ayah sibuk mempersiapkan sajadah untuk salat, sang anak membersihkan lantainya. Ketika sang ayah memeriksa microphone untuk orang takbiran, sang anak membersihkan mimbar khutbah.
Pak Mus, begitulah orang biasa memanggil sang marbut. Mengenai nama sebenarnya dari sang marbut hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya. Pak Mus adalah marbut sejati di musala itu, kesetiaannya kepada musala itu tidak diragukan lagi. Ia mulai bertugas menjadi marbut tatkala musala itu baru berdiri.
Bahkan ia juga ikut serta waktu pendirian musala. Namun kesetiaan Pak Mus terkadang tidak mendapatkan balasan yang sebanding. Sehingga terkadang sang anak selalu protes dan sering mengusulkan kepada sang ayah untuk berhenti saja menjadi marbut di musala itu.
Bukan karena sang anak tidak mau Pak Mus menjadi marbut atau bukan juga karena sang anak tidak mau membantu lagi tugas sang ayah, tapi sang anak lebih kepada kasihan melihat Pak Mus yang selalu mendapatkan perlakuan tidak adil.