Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Keruntung Bak

SYABAHARZA.-Dok Pribadi-

CERPEN SYABAHARZA 

 

SORE itu tampak lelaki setengah baya duduk di teras rumahnya. Lelaki itu dengan cekatan menggerakkan tangannya menyulami sebuah keruntung tua. Dengan hanya memakai baju singlet lelaki itu menutupi satu persatu lubang yang ada di keruntung itu. 

 

Sesekali ia menghentikan aktivitasnya tatkala melihat orang yang lalu lalang di jalan depan rumahnya. Sapaan akrab selalu dilontarkannya ketika melihat orang yang lewat. Yang dikenalnya ataupun yang tidak dikenalnya selalu disapanya.

 

Bak, begitulah aku memanggil lelaki yang sudah berumur itu. Bak lelaki hebat dan tangguh. Bak tidak pernah menyerah dengan nasibnya. Tidak pernah kulihat kemalasan ada pada dirinya. Bak merupakan tulang punggung kami. 

 

Dengan pekerjaan Bak sebagai pedagang ikan, ia harus bekerja keras menafkahi keluarganya. Setiap hari ia harus mencari ikan kemudian menjualnya ke kota. Dengan modal sepeda ontel dan keruntung, Bak rela pergi pagi pulang sore demi mencari cuan yang banyak.

 

Hari itu, Bak pulang agak cepat dari biasanya. Hari itu kebetulan ikan yang dibawa ke kota habis dalam waktu singkat. Kesempatan itu dipergunakan Bak untuk memperbaiki keruntungnya yang mulai apkir. Keruntung itu ibarat senjata bagi Bak ketika berjuang mencari nafkah. Keruntung yang penuh sejarah itu selalu mengerti dengan penderitaan Bak. 

 

Keruntung itu selalu siap menampung berkilo-kilo ikan untuk dibawa ke pelanggan. Keruntung yang tidak akan bisa dilupakan oleh Bak. 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan